Minggu, 10 Juni 2012

Story : The Lost Heart

Diposting oleh Viriza Rara di 10.32
Reaksi: 


The Lost heart


[Originally by myself]

Genre : Fantasy, Yaoi

Rating : PG-17

Note  : This fanfiction inspired by music video of  IU. There’s no character’s name, so imagine it by yourself.Typos? I don’t care. Ohohoho....



Saat sesosok malaikat kehilangan hatinya, bukan berarti ia menjadi kejam, tapi jiwanya merasa kesepian.


“Aku sudah lelah...” namja itu menutup kelopak matanya perlahan.

“Maaf... hyung... aku...”tak bermaksud menyakitimu.

“Terlampau lelah melihatmu dengannya...”ucapnya lirih, dan air matanya mengalir.

“Bukan... kau salah...”aku saat itu lupa akan keberadaanmu...

“Biarkan aku pergi...” kini ia berbalik.

“Tidak..!!”jangan pernah tinggalkan aku...

“Terimakasih... untuk segalanya.” Ia tersenyum tulus.

 Dan tubuhnya terhempas. Terjatuh dari atap gedung.


Aku menangis

Bukan seperti diriku yang sebenarnya, tapi kau membuatku menjadi seperti ini

Kenapa kau pergi?

Kepergianmu membuat setiap rongga hatiku terpenuhi oleh rasa penyesalan yang tak berujung

Hati ini hampa tanpamu

Seperti jalan yang gelap dan sepi pada malam hari

Aku tahu ini tidak nyata

Katakan padaku bahwa perpisahan ini hanyalah mimpi

Tak lama lagi aku pasti akan terbangun

Menyambut kenyataan bahwa kita tidak berpisah

Tapi kapan?


Seorang namja berwajah malaikat melangkahkan kakinya perlahan dengan seluruh kekuatan yang masih tersisa padanya. Air mata tak berhenti mengalir dari kedua sudut matanya yang basah. Mengalir tersembunyi melewati hati yang kesepian.

Menyeret langkah berat menuju di mana dua buah bangunan saling berhadapan kokoh. Portal kematian. Dunia gelap yang hanya diperuntukkan bagi orang yang telah lelah untuk hidup dan jiwanya yang kesepian.

Langkahnya terhenti ketika ia sampai tepat di pintu kematian. Ia memandang kosong pada udara di depannya. Pancaran kehampaan sinar matanya menyiratkan kepedihan yang mendalam, pada suatu tempat dalam dirinya yang tak bisa dijelaskan.

Ia menarik nafas dalam, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa inilah pilihan terbaiknya. Satu-satunya jalan untuk menemui orang yang dicintainya.

Seulas senyum tergambar di wajahnya ketika ia membayangkan tentang kekasihnya. Tangannya tergerak mengambil selembar foto tentang dirinya dan namja itu. Melihatnya sesaat dan hatinya kembali terasa pedih.Dan setetes air mata mengalir kembali. Membiarkan dirinya sesaat terlarut dalam kesedihan tak berakar yang membuat hatinya tersayat.

“Sebentar lagi kita akan bertemu, bukan...?” ia berdesis tidak pada siapapun.

Jemari tangannya yang lain menggenggam sebuah fighter, yang kemudian diarahkannya pada foto itu. Lalu membakarnya disertai seulas senyuman pada bibirnya.

Beberapa saat kemudian ia membuang foto tersebut yang baru sebagian terbakar, lalu melangkahkan kakinya memasuki gerbang kematian.

Di dalam dunia yang asing itu saling berjejeran pohon-pohon tua yang sudah kering dan terlihat menyedihkan, tanpa daun seolah akan mati meski tetap berdiri. Seluruh permukaan tanah tertutupi oleh dedaunan maple berwarna coklat. Lalu di sisi lain ada beberapa tumbuhan berwarna kelabu yang dihiasi bunga mawarhitam.

Ia mengambil bunga itu dan memandangnya dengan heran.

Apa? Kenapa masih ada bunga di tempat berbau kematian ini? Bukankah bunga terlalu cantik untuk disandingkan dengan hal buruk seperti ini?

Angin berbau kematian berhembus menerpa tubuhnya, seolah menyambut kedatangan calon manusia yang akan dimangsa kegelapan.

“Aku di sini, sayang...”

Samar dengan sedikit bergema, ia mendengar suara kekasihnya yang berucap di sisi lain. Segera ia berlari ke arah datangnya suara, menjejakkan kakinya dengan langkah cepat pada tanah yang tertutupi oleh dedaunan dan beberapa ranting patah.

TAP

Sepertinya suara tadi berasal dari sekitar tempatnya berpijak saat ini. Tapi... di mana sosok yang sangat ia rindukan itu?

“Dimana? Kau... dimana..?” ia bertanya dengan nafas yang terengah.

“Aku di sini...”

“Hiks...”

Ia terjatuh. Lelah menjalari seluruh tubuhnya. Sudah tak tahan dengan semua ini. Ingin rasanya menangis untuk meluapkan rasa rindu saat ia mendengar suara lembut kekasihnya.

“Aku tak bisa melihatmu...” ucapnya di sela tangisnya.

Tiba-tiba dari tanah tempatnya berpijak, merambah ke atas makhluk berbayang kegelapan. Berwujud angin yang tak bisa disentuh, tapi hanya bisa dirasakan kehadirannya. Makluk itu bergerak menggeliat hingga sosok tepinya terlihat samar, lalu berpindah posisi secara perlahan, seolah menuntunnya menuju suatu tempat. Dan entah karena apa, ia menurut saja.

Mereka berjalan menyusuri lorong gelap yang hanya terdapat sedikit penerangan. Bahkan dinding lorong itu sangat gelap hingga terlihat seperti transparan. Udara yang dingin mendominasi atmosfer di sekitarnya.

Tak lama setelah ia menyusuri lorong tersebut,makhluk kegelapan yang samar itu berhenti dan berputar mengelilinginya, hingga yang hanya bisa ia lihat hanyalah kabut kegelapan dan bau kematian yang begitu menusuk. Beberapa detik kemudian makhluk tersebut lenyap.

Ia melihat ke sekeliling dengan pandangan bingung. Yang ia bisa tangkap dengan matanya adalah tempat asing yang pekat dengan kegelapan, tapi ada satu yang ganjil. Satu lingkaran di hadapannya yang berkilau, seperti tersorot cahaya di antara deretan pepohonan tua yang ada.

Dan... Suara gemercik air? Mengapa terdengar di telinganya dengan begitu lembut?

Memejamkan matanya dengan memusatkan pikiran pada suara gemercik air tersebut. Beberapa saat kemudian, matanya terbuka sempurna dengan bulir-bulir air bening yang jatuh, menuruni lekuk pipinya sebelum terjatuh menapaki tanah.

Air mata yang mengalir beriringan begitu sajapada pipinya adalah sebab dari ia menyadari bahwa saat ini tengah berada di antara alunan melodi alam kesunyian.

Inikah kematian yang sesungguhnya? Tapi... bukankah ini terlalu indah?

Lingkaran berkilauan di hadapannya adalah danau dengan kilau kehidupan. Mungkin sudah terlambat untuk kembali ke dunianya yang dahulu, karena ia terlanjur memilih jalan yang salah. Tapi tak sedikitpun ia menyesal, karena ia merasa seperti hidup kembali dengan memori kesunyian.

Dalam benaknya, kembali berputar ulang lagu bernada kesunyian.

“The pouring rain i cannot see before one...”

Mulutnya berucap melantunkan lagu yang pernah disenandungkan dengan kekasihnya.

“Put it all to the side, wihsing, hoping to not walk there...Difficulty standing, trembling horribly like the edge of a cliff...Folding my small two hands to pray...”

Seketika itu juga danau dihadapannya semakin berkilau, dan pepohonan tua di sekitarnya bergoyang mengalunkan irama gesekan yang indah—seperti biola usang yang masih kuat bernyanyi. Ia tetap menyanyikan lagu itu dengan mata yang tertutup damai.

“My heart filled with gashes, the deep wounds make me want to hate you.Burning the photograph, erasing from my heart, forget all the memories.Again and again...”

Namun ia tiba-tiba menghentikan nyanyiannya, ketika merasa mencium harum kekasihnya. Saat membuka mata, samar-samar ia melihat bayangan kekasihnya berjalan mendekat ke arahnya.

Benarkah ia...?

“Hyung...”

Kekasihnya menatapnya dengan kehampaan. Tatapan yang sulit dimengerti olehnya, tapi itulah sorot mata seseorang yang telah mati. Ia mengulurkan tangannya, meraih tangan namja kecil itu, lalu memberinya sebuah cincin.Setelahnya, ia mengusap pipi namja itu lembut. Menghapus jejak air mata yang berbekas di sana.

“Kumohon... tinggallah denganku...” namja cantik berwajah malaikat itu memohon dengan berbisik.

Tapi namja yang adalah kekasihnya itu menggeleng. Ia tidak ingin melihat kekasihnya yang masih hidup mengakhiri segalanya, dan memutuskan untuk bertemu dengannya. Itu adalah suatu kesalahan besar. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada namja itu dan berbisik,

“I adore you...”

Dan sosoknya menghilang bagai serpihan bunga yang berguguran tertiup angin.


Kelopak matanya terbuka perlahan, merasakan rintik hujan yang menyentuh lembut kulitnya. Ia terbangun dengan gerakan yang lemah.

Pandangannya kembali terarah pada nisan di hadapannya. Hendak meraih nisan itu, tapi ia urungkan niatnya sebab terhenti oleh selembar foto yang terjatuh di dekatnya. Ia mengambil foto itu.

Kini fotonya sudah tak utuh. Hanya tersisa wajahnya saja yang tertunduk malu dengan bersemu merah. Sesungguhnya ada subyek lain di sampingnya, yang membuat namja dalam foto itu merasa malu. Yaitu kekasihnya yang hendak menciumnya. Tapi... gambar kekasihnya itu hilang.

Ada sisa abu yang melekat di sana, menandakan bahwa foto itu baru saja terbakar api.

Ia mendongak. Sedikit terasa perih ketika air hujan itu menimpanya dalam tempo yang cepat. Ia meletakkan satu tangannya di atas wajahnya, guna menutupi wajah malaikatnya dari air langit yang semakin menghujam.

Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman. Ia sangat berterima kasih pada hujan yang tidak menghapus gambarnya dari foto tersebut.Seolah sang hujan berkata padanya bahwa hidup masih harus terus berlanjut.

Saat ia menurunkan tangannya kembali, ada sesuatu dari genggamannya yang terjatuh. Ia meraih benda kecil itu, dan tersenyum kembali melihatnya.

Terukir namanya di sana. Pastilah itu adalah cincin pertunangannya yang belum sempat diberi oleh kekasihnya, dikarenakan sehari sebelum pertunangan itu, kekasihnya memutuskan untuk mengakhiri hidup.

Tapi tak apa. Ia pun telah bertindak bodoh dengan selalu mengabaikan rasa cinta kekasihnya. Barulah saat ini ia menyadari betapa beruntungnya ia dicintai seseorang yang pernah bersabar untuknya ketika ia bersama dengan orang lain.

Tes. Tes. Tes.

Hujan semakin lebat. Sepertinya ia harus segera pulang.

Ia bangkit dengan tetap menggenggam cincin dan foto itu, lalu sebelum melangkah pergi, ia berbisik pada makam itu.

“Now I found my lost heart...”



Hatiku tak pernah hilang,

Hanya tersembunyi saat aku benar-benar buta karena kesedihan.

Maafkan aku yang saat itu melupakanmu

Tapi kau masih menginginkanku tersenyum untuk hari esok, bukan?


Namja itu tetap diam dan berdiri memandangi sosok namja lainnya yang baru saja pergi meninggalkan makam. Sesungguhnya sejak tadi ia sangat ingin merengkuh sosok namja itu, yang menangis untuknya. Namun ia tahu itu tidak akan mungkin bisa dilakukannya.

Sangat menyedihkan ketika ia melihat kekasihnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya agar mereka bisa bertemu kembali. Sorot kehampaan sinar mata kekasihnya saat itu adalah wujud dari rasa keputus asaan yang sangat membuatnya merasa bersalah.

Tapi kini malaikatnya telah menunjukkan senyumnya kembali. Ya, di bawah guyuran hujan, ia telah menemukan kembali hatinya yang tersembunyi.


THE END

0 komentar:

Posting Komentar

[ Vistory ]

Halaman

Pages

Cari Blog Ini

Jumlah Pengunjung

 

SAN3R Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting