Jumat, 15 Juni 2012

Kkeojyeo Julge Jal Sara

Diposting oleh Viriza Rara di 10.49
Reaksi: 

Title : Kkeojyeo Julge Jal Sara (I’ll go off so you can life better)

Author : Viriza Rara

Genre : Sad, Romance, Angst

A/N : Judul sama isi jauuh berbeda. Hohoho~


Taemin’s PoV

“Taemin...”

Aduh, mengganggu saja. Siapa sih? Aku masih ingin tidur...

“Taeminnie... bangun sayang...”

“Mmm... ne...” aku bergumam dengan mata yang masih terpejam.

“Ini sudah siang, yeobo...”

Eh, memangnya aku sudah menikah, ya?

Hmm, menikah...
.

Me-ni-kah..?

...APA?!

Seketika aku terbangun dengan mata yang terbelalak padanya. Menyadari sesuatu yang aneh pada kalimat yang diucapkannya padaku.

Dia tertawa melihatku yang langsung bangun dengan cepat. Huh. Ternyata dia hanya mengerjaiku.

“Hyung... dasar jahil kau ini,” aku menghela nafas dan mempoutkan bibirku. Untung saja dugaanku salah kalau aku sudah... ehm... menikah. Sangat tidak mungkin bila aku dinikahi saat aku sedang tidur. Haah... taemin, kau ini melantur sekali.

Taesun hyung, namja berperawakan tinggi yang sedang mengancingkan jas kantornya itu adalah kakakku. Dia sering iseng mengerjaiku karena menurutnya aku sangat lucu. Padahal aku sudah lulus kuliah dan baru saja akan bekerja. Aku juga sudah mulai menghilangkan sikapku yang kekanak-kanakkan. Membuat tindik di telinga dan sering bersikap macho. Apanya yang lucu coba?

“Sudah kusediakan banana milk plus daging panggang di meja makan. Sana, mandi lalu sarapan.” Titahnya sambil masih terus bercermin diri. Aku beringsut menuruni bed, kemudian berjalan dengan langkah malas ke arahnya.

Ia melirikku melalui cermin. “Kamar mandinya sebelah sana, Taemin. Kamu ngelindur yah?” tanyanya dengan menaikkan sebelah alis tebalnya.

Mengabaikannya, aku malah mengambil dasi bergaris-garis yang berada di  meja rias, lalu memakaikannya pada kerah kemejanya dengan gerakan... ehm, seperti seorang wanita yang sedang memakaikan dasinya pada suaminya. Aku berniat untuk membuat hyung-ku sadar bahwa aku bukanlah anak kecil lagi.

Ia memandangku heran. Aku menalikan dasi itu dengan begitu rapi, lalu menatapnya dengan tatapan lembut dan manja. Dengan seperti ini, aku yakin ia akan menganggapku sudah dewasa.

“Aku bantu memakaikannya, hyung” aku mengerling padanya seraya tersenyum.

“Taemin..” ia menahan nafas.

“Ya?”

“Aku tahu kau bukan lagi anak kecil,”

Aha! Taktikku berhasil! Yeah!

Taesun-hyung berdeham, “Tapi sepertinya kau semakin larut dalam permainan ‘rumah-rumahan’ kita, ya?”

Aku melongo.

“Eum, maksudku, kau tampak lebih seperti wanita pagi ini.”

Ya. Aku tahu itu. Memang itu maksudku menunjukkan sikap barusan.

“Kau tidak marah?” Taesun-hyung menatapku aneh dan itu menghentikan kegiatanku yang sedang mengedip-ngedipkan mataku.

“Untuk apa?” tanyaku bingung.

“Eum, kau terlihat cantik meski baru bangun tidur.”

Idiih... mencoba merayuku, ya?

“Sebenarnya,” Taesun-hyung mengecup keningku sekilas, mengambil koper dan beranjak ke ambang pintu. Eh? Kok meninggalkanku begitu saja sih hyung?

“Arti dari kalimatku tadi adalah, kau menghilangkan kesan manly pada dirimu sendiri.”

Dan setelah menyelesaikan kalimatnya, ia langsung pergi keluar apartemen. Meninggalkanku yang masih melongo dengan wajah yang terasa panas.

Huwaaa, ternyata caraku salah! Aku malah menghancurkan harga diriku sebagai seorang pria di hadapan kakakku sendiri! Dasar Taemin bodoh!!

——

“Haah...”

Aku berjalan sambil sesekali menendang batu kerikil yang ada, berharap bisa menghilangkan rasa maluku yang terus hinggap sejak kejadian pagi tadi di kamar. Terus merutuki kebodohanku yang begitu lalai menjaga harga diriku.

Aku tidak yakin mampu bertatap muka dengannya nanti. Geez... apa yang harus aku lakukan sekarang?

“Hei, Taemin!”

Aku menghentikan langkahku dan segera menoleh. Kanan, tidak ada. Kiri, tidak ada. Belakang, juga tidak ada. Siapa?

“Sini, sini!” panggil suara itu lagi. Aku memicingkan mataku, dan mendapati seseorang yang sangat kukenal sedang melambai ke arahku dari kebun di halaman rumahnya. Segera aku berjalan mendekatinya.

“Pagi, Kibum hyung... ada apa?” sapaku pada namja bermata tajam—hampir seperti kucing yang tersenyum sumringah melihatku.

“Pagi, Taeminnie...” balasnya.

Aku menumpu kedua tanganku pada pagar dinding pembatas rumahnya yang pendek. Memerhatikannya yang sedang mengelap keringat menggunakan lengannya. Ia tampak lusuh dengan pakaian berkebun yang sudah ternoda, topi khas yang ditalikan sampai dagunya, juga sapu besar yang digenggamnya.

“Asistenku belum datang, dan aku sudah tidak tahan untuk segera membereskan kebun. Tapi ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Kau sedang tidak sibuk, kan? Bisa membantuku tidak?”

“Oh, tentu.” jawabku sambil tersenyum. Ia balas tersenyumlalu segera membuka pagar putih—tidak lagi pink seperti biasanya—rumahnya, dan mempersilahkanku untuk masuk.

Aku menurutinya dan mulai melangkahkan kakiku memasuki halaman rumahnya.

“Jadi, apa yang bisa kubantu?” tanyaku begitu telah sampai di kebunnya yang tampak berantakan.

“Hmm, bisakah kau memindahkan pot-pot keramik itu ke sepanjang jalan menuju pintu rumahku, Taem? Akan terlihat lebih bagus bila disusun seperti itu.”

Aku mengangguk, lalu beralih menatap pot-pot keramik yang dimaksudnya. Satu, dua, tiga.... sepuluh pot keramik yang cukup besar. Apa aku bisa mengandalkan tenaga manly-ku, ya?


“Hyung, sebaiknya kau mengganti pakaianmu, deh..” aku berkata sambil terus memerhatikan kibum hyung yang sedang membuat teh jepang di dapur.

“Ya. Kau terlihat buruk sekali, Oppa” timpal Hye Ra yang sedang duduk di sampingku di atas tatami.

Kibum hyung selesai membuat tehnya dan menghampiri kami dengan tiga gelas teh di atas nampan yang dibawanya. Menaruh teh tersebut di atas meja, lalu duduk dengan gaya seperti orang jepang.

“Hohoho... meski aku seperti ini, tetap saja jonghyun-hyung mencintaiku...” katanya disertai senyuman licik khas seorang diva—atau kucing?

“Hoo...” aku mengangguk, kemudian meneguk teh hangat itu. “Hubungan kalian masih langgeng sampai sekarang, ya, hyung?”

“Tentu saja, ohohoho...” kibum hyung mengambil segelas teh dan meneguknya perlahan, lalu kembali menatapku dan Hye Ra bergantian. “Buktinya setiap hari dia mengirimkan bunga untukku. Iya, kan, Hye Ra?”

Hye Ra mengangguk dengan ragu.

“Ada apa, Hye Ra?” aku menatapnya khawatir. Tidak ada jawaban. Aku beralih menatap kibum hyung, tapi ia malah tersenyum tidak jelas dengan pandangan menerawang.

Aku jadi agak merinding untuk sekadar duduk di sini. Kurasa suasananya jadi semakin menyeramkan. Aura anehnya sangat terasa.

TING TONG!

Gerakanku terhenti dan aku langsung beranjak untuk membuka pintu. Meski aku bukan pemilik rumah ini, tapi, yah, kau tahu lah.. pemilik rumahnya sedang—

“Biarkan aku yang membukanya, Taemin.”

Kibum hyung menghalangiku dengan senyum aneh yang masih tergambar di wajahnya, lalu membuka pintu. Aku memutuskan untuk kembali duduk di tatami. Kulirik Hye Ra yang masih diam di sampingku. Semburat merah di wajahnya terlihat semakin jelas.

Beberapa saat kemudian kibum hyung datang menghampiri kami. Ditangannya ada sebuket bunga.

“Hyung... itu—“

“Yup! Ini dari my lovely dino.” Ia mencium harum bunga itu.

Oke. Kurasa aku sedikit iri dengannya. Mengingat kalau cinta kibum hyung berbalas, dan mereka hidup bahagia. Sedangkan aku? Berbeda jauh.

“Kau malu untuk menemuinya, heum?” suara Kibum hyung menyadarkanku dari lamunan.

“Eh? Apa maksud hyung?”

“Aku berbicara dengan Hye Ra.”

Uh-uh. Ternyata aku salah. Yah, tidak mungkin juga bila kibum hyung bisa membaca pikiranku.

“Memangnya ada apa, sih?” aku yang ingin tahu ikut nimbrung.

Tiba-tiba saja, Hye Ra bangkit dan berlari ke kamarnya. Menutup pintu geser kamar itu dengan gerakan cepat hingga menimbulkan bunyi bedebam.

Kibum hyung terkekeh pelan. Bukan ‘ohohoho’ seperti tadi lagi. “Dia menyukai si pengantar bunga,”

“Hoo...” aku mengangguk mengerti. Jadi itu penyebabnya mengapa sikapnya sedikit berubah saat Kibum hyung menyinggung tentang bunga.

“Hmm, jadi, bagaimana hubunganmu dengan Minho?”

“Eh?”

Sudah lama sekali aku tidak mendengar namanya. Si pangeran kodok yang sangat populer saat masih sekolah dulu. Yah, dia adalah mantan pacarku. Tapi aku memutuskan hubungan dengannya saat itu. Karena suatu alasan, yang...

“Masa kau lupa, hm?” tanya Kibum hyung lagi sesaat setelah ia menyesap tehnya. “Apa kau tahu dia sekarang menjadi seorang eksekutif muda, pemilik beberapa game centre di korea selatan?”

Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Kibum hyung. Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana kehidupan minho hyung setelah itu, bahkan kabarnya pun tidak. Aku sudah benar-benar memutuskan hubunganku dengannya. Egois, bukan? Padahal jika dulunya adalah pacar, bisa saja kami berteman. Tapi aku memilih untuk tidak segalanya.

“Haduh, Taemin. Kau ini tidak tahu benar? Dasar payah.” Kibum hyung menggeleng melihatku. ”Aku saja yang seorang novelis ini bisa mengetahui dunia luar. Seharusnya kau yang belum bekerja lebih gaul sedikit dong”

“Hehehe...”

Hening. aku pun memutuskan untuk diam, sama hal nya seperti kibum hyung yang hanya menatapku dengan bibir yang sedikit dimajukan. Melihatnya aku jadi ingin tertawa saja.

“Umm... hyung, sebenarnya, kau ini menulis novel tentang apa sih?” aku menunjuk deretan novel yang berjejer rapi di atas rak. Sebenarnya meski aku telah berteman lama dengan kibum hyung, tak sedikitpun aku tahu apa yang ia tulis pada novel karyanya.

“Cerita semacam detektif, sherlock holmes, gallagher atau yah, manga jepang semacam meitantei conan.” Jawab kibum hyung santai.

Eh? Kenapa... kibum hyung jadi menulis karya seperti itu? Bukankah dulu ia sangat membenci meitantei conan karena pacarnya, jjong hyung, sikapnya menjadi seperti seorang psikopat lantaran mengoleksi manga itu? Jangan-jangan...

Aduh, kenapa aku merinding begini, yah?

“Kenapa kau mengusap-ngusap lenganmu seperti itu, Taemin? Kau kedinginan?”

Refleks aku menghentikan gerakanku yang sebenarnya tak kusadari, lalu memandang kibum hyung dengan sebuah cengiran yang kubuat di bibirku.

Ia memandangku sejenak, lalu beranjak ke kamarnya, kemudian kembali dengan sebuah jas hitam panjang yang berada di genggaman tangannya. Melemparnya padaku.

“Aku tidak punya jaket. Pakailah itu.” Ia berkata dengan datar.

Agar tidak dibilang aneh, segera saja aku memakainya.

Ia kembali duduk dihadapanku, dan aku kembali menatapnya. Sejenak aku berpikir untuk membuka pembicaraan kembali.

“Hyung... dalam percintaan, jika salah satu dari mereka berkhianat, apa itu artinya cinta adalah permainan, hyung?” aku bertanya dengan ragu.

Ia menatapku bingung, lalu berdeham. “Bukan, Taemin. Karena tidak ada yang menang dan yang kalah dalam percintaan.Bisa saja kau berpikir seperti itu, karena perasaan memang yang mendominasi arti suatu kata dalam ‘cinta’. Tapi iabukan suatu permainan, hanya ilusi kebohongan yang bisa ditangkap oleh perasaan.Maka dari itu, terkadang memang ada salah satu dari mereka yang harus terluka karena perasaannya sangat sensitif.”

Dan perkataan hyung yang membingungkan mampu membuatku melongo.

“Lalu, kau dengan jjong-hyung...?”

“Hmm, yah, aku dan dia bukan saling mencintai. Tapi menyayangi.” Kibum hyung tersenyum. “Tapi, kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang hal seperti itu? Apa... kau sedang jatuh cinta, ya?”

Eeh~? Tidak kok! Kau salah baca, kibum hyung!

“Gelenganmu menandakan suatu hal yang berbeda dari kenyataannya...” ia menggodaku dengan tersenyum jahil.

“Bu-bukan! Aku dan Jinki-hyung hanya...”

“Eh? Jinki?” ups. Aku salah bicara. “Taemin... kau.. apa hubunganmu dengan si kacamata tebal itu?”

Hyaaa~! Akhirnya perasaan yang selama ini kusembunyikan ketahuan juga!


 TBC
           

0 komentar:

Posting Komentar

[ Vistory ]

Halaman

Pages

Cari Blog Ini

Jumlah Pengunjung

 

SAN3R Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting