Kamis, 26 Februari 2015

Endless Tears 6 (END) : Cinta Tidak Mengenal Batas

Diposting oleh Viriza Rara di 15.25
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Sekali Lagi, Temukanlah Aku...


credit photo to : frasa rose.
makasih buat covernyaaa, roseee~
***
Semua orang berbalut pakaian hitam. kerabat, teman, guru... semua datang untuk mengucapkan 'turut berduka', dan mengantar Minho ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Ah, Choi Minho yang malang. dia masih terlalu muda untuk pergi selamanya. siapa yang menyangka dia akan pergi secepat ini, sementara kemarin dia baru saja bangun dari koma. orang tuanya yang selama ini selalu melupakan Minho karena pekerjaan pun terlihat terpukul.

Kedua mata Key bengkak dan sembap. dia sudah berusaha untuk menutupinya denganmake up tapi tidak berhasil. hyun joong duduk di sampingnya dan membiarkan Key bersandar di bahunya. jonghyun sibuk dengan ponselnya, dahinya berkerut dan ia terlihat tak tenang. riwayat panggilan keluarga berderet nama taemin sebanyak tiga puluh kali. tapi tak satu pun dari panggilan itu terjawab.

"aku akan mencarinya." kata jinki dengan suara parau. jas hitamnya dia ambil dan langsung berdiri.

jonghyun mencegahnya, menarik lengan sahabatnya itu. "bersabarlah, sebentar lagi dia pasti datang, jinki." katanya meyakinkan. dia menelan ludah."dia... pasti baik-baik saja."

jinki tersenyum sinis. wajahnya masih terlihat pucat. dia belum benar-benar sembuh dari demamnya kemarin, dan lagi tadi pagi hanya sempat menyantap sepotong roti.

"kamu menyuruhku bersabar? tsk. lihatlah dirimu, jonghyun. siapa yang paling tidak yakin dengan keadaan taemin sekarang? aku... atau kamu?"

"itu karena aku peduli padamu!! apa kamu tahu bagaimana keadaannya? kamu juga tidak percaya padanya, bukan?" teriak jonghyun. tangan jinki disentakkan olehnya. perhatian orang-orang beralih pada mereka. jonghyun salah tingkah,jadi dia kembali memelankan suaranya. "dengan keadaan seperti itu, kamu mau mencarinya? tch. jangan bercanda. siapa yang akan menolongmu kalau kamu pingsan di jalan?"

tatapan jinki menjadi dingin. sedingin tangannya saat ini. "kalau begitu, jangan pedulikan aku. aku bisa menjaga diriku sendiri. aku tak butuh pertolongan." katanya dan berlalu meninggalkan mereka bertiga.

"tch.sombong sekali, si kepala batu itu!" gerutu jonghyun. hyun joong dan key tidak bisa berkata apa-apa lagi. hanya menghela napas memaklumi pertengkaran itu.

**

Umma, appa, mianhamnida. jeongmal mianhamnida. aku pergi. jangan mencariku.
Taemin

DUGG!!

jinki memukul setir mobilnya frustasi. langit malam sudah menyelubungi kota, tapi dia masih belum menemukan taemin. di apartemen... di sekolah.. di tempat-tempat yang mungkin dia datangi. di mana pun dia tidak ada.

saat ia pulang dari pemakaman minho tadi, dia langsung pergi ke rumah taemin untuk bertemu dengannya dan meminta maaf. dia akan melakukan apa pun asalkan taemin mau memaafkannya. tapi yang dia temukan adalah sepucuk surat itu dan cincin pertunangan mereka. apa ini artinya taemin telah memutuskan hubungan dengannya?
tch.lelaki macam apa dia, yang tidak bisa menjaga dan melindungi kekasihnya?

semua ini sudah cukup membuat jinki hampir kehilangan akal. baru kemarin dia hendak meminta maaf pada taemin. tapi saat terbangun, tiba-tiba saja minho sudah tiada. sekarang, bahkan kata maafnya tak bisa membayar hutangnya pada taemin. dia sudah terlalu berdosa dengan memenjarakan taemin dalam hubungan yang tidak diinginkan yeoja itu, memaksa hatinya, lalu menghancurkannya.

ya. betapa bodohnya ia karena baru menyadari hal itu sekarang. selama ini dialah yang salah. dari awal dia tidak tegas dalam hubungan mereka. sudah sewajarnya bagi taemin untuk menolak dan menentang apa yang tidak diinginkannya.

dan hari ini yeoja itu pergi. mungkin inilah titik dimana dia sudah tidak bisa menahannya lagi. dia sudah terlalu lelah dengan semuanya, sampai tidak ingin melihat wajah jinki lagi. surat dan cincin yang terlepas itulah buktinya.

embun mulai menghalangi pandangan jinki. dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menghalangi embun itu agar tidak jatuh.

mianhae, taemin...
gwenchana. pergilah. temukan kebebasan yang telah kurenggut darimu. lupakan aku. buang semua bebanmu. dan, kumohon... berbahagialah...

saranghae.

**

SEOUL, 7 tahun kemudian.

waktu begitu cepat berlalu. rasanya baru saja kemarin mendapat pukulan terberat dalam hidup. merintih atas pedih, meronta pada luka, mengutuk takdir dan mengemis pada dunia. tapi semua itu telah berlalu. sekarang bahkan sudah bisa menghirup udara dengan bangga. sungguh perubahan yang drastis.

poster,banner, pamflet, dan berbagai media cetak lain tak hentinya membahas berita tentang penyanyi yang sedang berada di puncak. kim hyun joong dan partnernya, kim jonghyun. mereka adalah duo kim yang tak terkalahkan (setidaknya untuk saat ini). hyun joong oppa yang cool, dan jonghyun oppa yang tampan. disamping itu suara mereka sangat menghipnotis. semua gadis-gadis di negeri ini tersihir oleh pesona mereka.

"apa katamu?"

terdengar bunyi 'bruk' saat key menaruh tumpukan dokumen di atas meja. dia menepukkan kedua tangannya utnuk membersihkan debu, lalu melirik hyun joong.

"variety show dan wawancara eksklusif Hot Star hari ini dibatalkan. ani, maksudku ditunda. kemarin aku menelepon pihak Hot Star untuk meminta maaf dan membatalkan acara ini saja, tapi mereka tetap berkeras ingin melaksanakannya. katanya ditunda pun tidak apa." jelasnya. "aish... sekarang ini kamu benar-benar populer, oppa. bahkan sampai kamu menolak acara demi kepentingan pribadi."

"apa yang kamu lakukan, key?" hyun joong berhenti menyesap kopi panasnya. dia menatap key sambil menaikkan sebelah alisnya. "aku tidak memintamu untuk melakukannya. aish... hancur sudah. dengan begini mereka akan menganggap kita tidak kompeten, tidak profesional. dan belum lagi, apa yang akan kamu lakukan untuk tiket-tiket yang sudah habis terjual?"

key memutar bola matanya. dia sudah tahu kalau hyun joong akan menjawab seperti itu, maka dia sudah mempersiapkan jawaban untuk hyun joong. bisa gawat kalau oppa yang satu itu ngambek. ternyata pekerjaan seorang manajer itu tidak semudah yang dia bayangkan. ini malah sangat sangat merepotkan sekali.

"kim kibum?" hyun joong menuntut jawaban karena key diam saja.

"aih, jangan memanggilku dengan nama itu!" gerutu key kesal. "ya, ya! aku mengerti! itu semua karena-"

"key terlalu antusias untuk menikmati hari libur bersamaku, jonghyun oppanya. selamat pagi, key sayang~"

jonghyun tiba-tiba datang dan merangkul key.

"mwo?" key menghujam jonghyun dengan tatapan membunuh.

"YA!KIM JONGHYUN! siapa kamu bisa menyentuh key seenaknya? hentikan!" hyun joong bangkit dan segera merebut key dari jonghyun.

"memangnya kenapa? kamu keberatan?" ejek jonghyun menjulurkan lidahnya.

hyun joong menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya, dan cincin yang serupa di jari manis key. jonghyun memutar bola matanya malas.

"nan-a-ra-sso. sudah berapa kali kamu menunjukkannya? tapi... kalau kamu terus bersikap dingin pada key..." jonghyun menyeruput habis kopi panas hyun joong (pemiliknyaterlihat tidak terima). "key bisa kurebut, lho." katanya disertai senyum nakal.

"key, buatkan kopi panas lagi. untukku... dan joongie tersayang..." kata jonghyun. dia sengaja memakai tersayang dalam arti yang sebaliknya.

key menurut, segera meninggalkan kedua cowok yang siap bertarung. mereka saling tatap, sampai ada petir menyambar-nyambar di sekitar mereka. hyun joong menatap tajam dengan aura merah membara, sedangkan jonhghyun tersenyum licik dengan aura hitam pekat.

di dapur, key menyeduh kopi sambil bersenandung kecil. dia merasa senang karena pagi hari hyun joong sudah menunjukkan kecemburuannya. manis sekali, hihihi...

tidak lupa key menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. karena jadwal mereka hari ini sudah diundur, mereka bisa bertemu dengan sahabat mereka. dua jam lagi, di bandara.

**

tuk.tuk. tuk.

sepasang pantofel hitam mengetuk marmer itu berulang kali. sesekali berhenti, lalu berkeletak-keletuk lagi. pemiliknya melihat jam, dia tampak kecewa dan mendesah.

"aish..di mana mereka? kenapa belum datang juga?" gerutu pria itu. matanya sibuk mencari-cari orang di antara lalu lalang bandara yang ramai.

"anda datang lebih pagi dari waktu janjian, direktur." sahut pria klimis disampingnya dengan formal. "apa anda mau berjalan-jalan sebentar? masih ada dua puluh menit sebelum waktu janjian dan tiga puluh lima menit sebelum pesawat anda lepas landas."

lee jinki, pria yang dipanggil direktur itu tersenyum. "kamu benar. aku mau mencari udara segar dulu. telepon aku kalau mereka datang, park."

"baik, direktur."

jinki keluar dari ruangan itu, berjalan santai ke mana pun sesuka hatinya. pemandangan luar lebih asik untuk dinikmati daripada dalam ruangan tadi. setidaknya... di luar tidak ada dinding pembatas yang terlihat mengekang.

jinki memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam udara yang menyegarkan. sebentar lagi dia akan meninggalkan kota ini untuk sementara, jadi menikmatinya sebentar tidak apa-apa, kan?

BRUK!

seseorang menabrak punggungnya.

"mianhae! mianhamnida, ahjussi!"

saat jinki berbalik, seorang perempuan berambut panjang membungkuk. tapi belum sempat jinki melihat wajahnya dan berkata sesuatu, perempuan itu keburu pergi dengan tergesa-gesa. ia menyeret koper yang besar dan satu tas jinjing. ia melangkah menuju taksi yang sedang menunggunya. setelah dia menata koper dibagasi dan memberikan tas jinjing itu, seorang perempuan tua berada di kursi penumpang mengucapkan terima kasih padanya. dia membungkuk hormat sampai taksi itu pergi.

jinki menghampiri perempuan itu. dia belum sempat minta maaf. bagaimanapun juga, dialah yang salah karena berdiri ditengah jalan. dia perlu memastikan kalau yeoja itu tidak terluka.

"tunggu, nona! maaf... aku-"

yeoja itu menoleh. mereka terdiam beberapa saat. kata-kata jinki tertahan ditenggorokannya. dia begitu cantik. matanya bulat dan jernih, kulitnya seputih awan beku, dan rambutnya panjang hingga menyentuh punggung. kecantikan yang sempurna.

"kau..." jinki masih belum percaya dengan yang dilihatnya. "taemin...?"

apa jinki terlalu lelah sampai berhalusinasi yang aneh-aneh?
tidak.
kalau ini halusinasi, kenapa tangan yeoja itu terasa nyata dalam genggamannya?

"annyeonghaseyo...oppa. lama tidak bertemu."

jinki mengerjapkan matanya tak percaya. ini mimpi. dia tak bisa bernapas saking tegangnya.
"benar...taemin? lee.. tae.. min..?"

yeoja itu mengangguk. "ne, oppa."

bahkan setelah bertahun-tahun jinki masih bisa mengingat dengan jelas suara yang sama persis dengan itu. tapi kini agak berubah sedikit lebih.. lembut?

entah kerasukan apa, jinki langsung memeluk yeoja itu, taemin. dia rindu. sangat sangat rindu. selama ini pun dia tak hentinya mengkhawatirkan taemin.
begitu banyak yang ingin dia tanyakan pada taemin.
selama ini ke mana saja? kau tinggal di mana? apa kau makan makanan instan terus? bagaimana keadaanmu?

tapi yang sanggup jinki katakan hanyalah, "taemin-ah... mianhae. mianhae. mianhae. jebal... pulanglah. hm?" pintanya.

"oppa...tidak mencari penggantiku?"

"tentu saja!" sahut jinki cepat. bagaimana ia bisa mencari pengganti taemin, jika dia hanya menyukai yeoja itu? sudah beberapa yeoja dia tolak, karena dia menunggu dan percaya taemin akan kembali. dia tau, taemin hanya butuh waktu untuk menyendiri tanpa siapa pun mengganggu.

"waeyo? ish! jinjja... pabo! bagaimana kalau aku tidak kembali? apa yang akan oppa lakukan?"

jinki melepas pelukannya, membiarkan tatapan mereka beradu. ada sebersit keseriusan dalam mata taemin yang tegas. apakah itu artinya, sejak awal dia memang tak berminat untuk kembali?

"yah...kita lihat saja untungnya. mungkin aku bisa melepas tanggung jawabku, membakar semua kontrak, dan kabur ke tempat yang sangat jauh dengan orang yang diam-diam kusukai dan hidup bahagia selamanya?" jinki menimbang-nimbang. tersenyum lebar, lalu bertepuk tangan sekali. "ide yang tidak buruk juga. kenapa aku tidak berpikir seperti ini dari dulu?"

taemin manyun. kecewa karena penilaiannya terhadap jinki meleset. namja itu sama menyebalkannya seperti dulu, tidak ada yang berubah!
"ish! kukira oppa menungguku! aku salah besar. aku menyesal!" gerutunya sambil mengentakkan kaki.

sebelum taemin kabur secepatnya, jinki sudah menarik pergelangan tangannya. menahan kekesalannya, wajah taemin justru makin terlihat imut. tawa jinki meledak.

"kenapa tertawa? tidak ada yang lucu!" bentak taemin ketus. "lepaskan!"

"kalau iya... bagaimana?" jinki mempertahankan genggaman pada lengan taemin. tidak ingin melepasnya pergi seperti dulu. tidak lagi.

"apa maksudmu?"

orang yang kusuka itu adalah kamu.

sekali lagi, jinki tersenyum. pesonanya meningkat saat itu membuat taemin tak bisa mengalihkan pandangannya. tidak. praduganya benar, bahwa jinki telah berubah. dia jadi makin dewasa, berkharisma dan... tampan. omo! apa yang ia pikirkan?

jinki mengelus rambut taemin lembut. menyisirnya ke belakang agar poni tidak menghalangi pandangannya.

"aku menunggumu. aku tidak mencari penggantimu, karena aku tahu kau akan kembali. dan aku yang akan membawamu pulang."

"whoa, percaya diri sekali! kalau aku tidak mau? apa yang akan kau lakukan?" taemin menyolot tak mau kalah.

"kau mengujiku?"

taemin memalingkan wajah. bersikap arogan, tapi sebenarnya dia sangat ingin tahu jawabannya. jinki mengembangkan senyum.

tiba-tiba jinki mengecup rambut taemin. taemin yang tidak menduganya kaget, detak jantungnya mendadak berpacu. satu poin lagi yang perlu diingat, jinki jadi lebih cabul!

"ya! kau- waaa-"

teriakan kaget taemin itu karena jinki menggendongnya seperti seorang putri. refleks dia memeluk leher jinki agar tidak terjatuh.

"maka, aku akan melakukan ini. maaf, tuan putri. aku terpaksa melakukannya karena kau tidak memberiku pilihan lain." katanya santai. mereka saling tatap. sejenak melupakan segalanya, terkunci dalam dunia mereka sendiri. hanya sebentar lagi. biarkan seperti ini sedikit lebih lama. jinki enggan melangkah pergi. ia masih ingin bersama taemin...

"ayo, mereka pasti sudah datang." tapi jinki harus tahu batas. ia menahan keinginannya itu dan segera melangkah ke ruang tunggu bandara.

"mereka? siapa...?"

benar saja. setibanya di sana, semua sudah berkumpul untuk melepas keberangkatan jinki ke jepang. jonghyun, hyun joong, key, dan pengacara park. gurauan mereka terhenti saat jinki datang.

"yo! kami datang, jinki!" sapa jonghyun. "siapa yeoja cantik itu? pacarmu?"

jinki menurunkan taemin dari gendongannya. saat ia menginjak lantai, semua menahan napas dan tak berkedip. taemin jadi salah tingkah. ia menunduk malu-malu dan menyibak rambutnya ke belakang dengan kalem.

"halo, teman-teman. lama tidak bertemu..."

"ta-ta-ta-taemin? uri... taeminnie?" gagap jonghyun tak percaya.

"benarkah...itu kau?" key mendekat untuk memastikan.

"ini luar biasa. senang bisa bertemu denganmu lagi, taemin." komentar hyun joong tenang.

"annyeonghasimnikka, nona muda. senang bertemu anda kembali." pengacara park membungkuk hormat.

tangan key memeluk taemin. ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatir, senang, rindu,dan haru yang bercampur aduk. air matanya tumpah seketika.

"kamu kembali... syukurlah. bagaimana kabarmu?"

taemin tersenyum dan membalas pelukan key. "aku merasa lebih baik sekarang, key."

"kau tumbuh makin cantik, taemin. aku hampir tak mengenalimu." ucap hyun joong.

mata jonghyun memerah menahan rasa haru yang membuncah. ia membalikkan badannya saat air matanya jatuh setetes. ia sangat bahagia melihat taemin kembali dan terlihat baik-baik saja.

"oppa keren sekali. aku suka lagu-lagu oppa." balas taemin lembut.

"gomawo."

acara reuni itu terputus saat pengacara park berdeham. "direktur, sebaiknya kita bersiap-siap. sepuluh menit lagi kita berangkat." katanya mengingatkan.

taemin beralih pada jinki. "sepertinya... oppa sangat sibuk, ya?" tanyanya kecewa.

jinki tersenyum lagi. sebenarnya ia pun masih ingin bertemu taemin. Tapi ia tak bisa meninggalkan tanggung jawabnya. pertemuan mereka memang tak direncanakan sebelumnya, tapi masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan.

saat ini, kebahagiaan dan kerinduan yang dirasakannya begitu besar, sampai-sampai kakinya hampir tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Tuhan, ia tak mau beranjak dari kebahagiaan ini...

"aku akan segera kembali. jaga dirimu, ne?" jinki meraih tangan kurus taemin, lalu mencium punggung tangannya. "saat aku kembali nanti, kita bisa memulai lagi dari awal. kamu mau, kan?"

taemin menggeleng. "shireo."

"shireo?" jinki mengangkat wajahnya untuk menatap taemin. "wae?"

"akun ggak mau memulai dari awal, oppa. aku sudah siap menjadi nyonya lee." senyum taemin mengembang.

jonghyun bersiul menggoda, hyun joong dan key bertepuk tangan. mereka ikut bersuka cita dengan jawaban taemin. jinki mengangkat taemin dan menggendongnya sambil berputar. mereka bahagia, ingin rasanya menebar kebahagiaan pada orang-orang disekitarnya.

*

pertengahan musim panas tahun ini, jinki dan taemin akan menikah. acaranya digelar di gedung dengan fasilitas terbaik dan megah. tak sulit bagi mereka untuk menyewa tempat mahal, mengingat keluarga Lee pemilik sah Ocean Corporation.

Taesun akan sibuk dua kali lipat karena setelah pernikahan harus memimpin perusahaan sendiri, tanpa jinki untuk sementara waktu. sebagai pengantin baru, tentu saja mereka wajib berbulan madu. dan kali ini destinasi honey moon mereka adalah selandia baru dan indonesia.

tetapi, lagi-lagi taemin menghilang. tepat satu jam sebelum resepsi pernikahan ditemukan secarik kertas di meja rias.

'oppa, temukan aku.' dari taemin.

akhirnya semua orang kembali kelabakan mencarinya. jinki memikirkan satu tempat yang sangat mungkin didatangi taemin. ia mengencangkan sabuk pengaman, lalu berangkat untuk mampir ke suatu tempat.

*

minho, bagaimana kabarmu?
maaf lama tidak mengunjungimu.
kelemahanku membuatku perlu waktu untuk menerima kepergianmu. apa kau marah?
minho... hari ini aku akan menikah. maafkan aku. jangan marah, ya?
aku memutuskan untuk menerima cinta mereka yang selama ini aku menutup mata dan telingaku darinya.
aku tak akan melupakanmu. kau juga.. temukanlah kebahagiaanmu di sana.

"taemin..."

saat ia menoleh, sepasang kaki melangkah mendekatinya. taemin bangkit dan memamerkan senyuman termanisnya.

"kau menemukanku, oppa."

jinki tak menjawab perkataan taemin. ia meletakkan sebuket bunga di atas makam. memejamkan matanya sambil berdoa sejenak.

udara d isekitar dingin dan sejuk, mereka enggan beranjak dari tempat sunyi itu. tempat yang tenang sekali, jauh dari keramaian dunia.

menunggu jinki selesai, taemin merasakan udara yang tak bersahabat. ia mengusap lengannya kedinginan. tadi ia terburu-buru waktu ke sini, tak sempat membawa jaket atau syal untuk menutupi lengannya yang terekspos.

selesai berdoa, jinki melepas jas hitamnya lalu disampirkan di bahu taemin. taemin digendong ala seorang putri olehnya. ujung gaun putih taemin menjuntai hingga ke tanah.

"gunakan ponsel di saku jasku untuk menghubungi umma. kita akan sampai di sana lima belas menit lagi." kata jinki yang terdengar dingin, dan melangkah ke luarkompleks pemakaman.

"oppa, kau marah?" taemin memandang jinki, tapi jinki tak mau memandangnya.

"tidak."

"kau marah," kata taemin, ia menunduk menatap gaun putihnya, merasa bersalah. "maaf, oppa. aku tahu aku keterlaluan. aku pantas dihukum."

"aku marah pada diriku sendiri." potong jinki sebelum taemin berbicara lebih banyak lagi.

"aku marah pada diriku yang tak bisa mengerti dirimu, yang tak bisa menjaga dan melindungimu setiap saat. aku takut... karena sikapku itu, kau membenciku da npergi dari sisiku."

"oppa...." mata taemin berkaca-kaca.

"jadi, maafkan aku."

taemin mengeratkan pelukannya pada jinki. ia makin merasa bersalah. jinki sudah sangat baik karena hanya memikirkan taemin daripada dirinya sendiri, tapi ia terus saja menyusahkan jinki.

"oppa..."

"hm?"

cup!

"saranghae."

senyum jinki mengembang.

aku berjanji. tidak akan membiarkan taemin menangis selamanya. aku akan menghapus air mata dan menyembuhkan lukanya. kau bisa mengandalkanku. karena sekarang aku punya keberanian untuk melakukannya.

*END*

***

Akhirnya…cerita ini berakhir jugaa… honornya mana honor?? Wkwkwkw.
Bai-baii…^^

Endless Tears 5 : Jangan Pergi.

Diposting oleh Viriza Rara di 15.21
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Genre : tragedy, happy ending ^^ 

——
Awalnya hyun joong berencana untuk menjenguk Minho. Dia baru ingat kalau jam besuk sudah habis. Rumah Sakit sudah tertutup dan aktivitas di sana sudah tidak terlihat begitu ramai. Saat dia tidak tahu mau ke mana, tiba-tiba ponselnya berdering.

“halo? Oh… Jonghyun. Ada apa?” sapa hyun joong begitu mengangkat telepon masuk.

“’ada apa’ kepalamu! Yang benar itu, ‘selamat natal’, tahu!” balas jonghyun sengit. Hyun joong terkekeh.

“baik, baik. Selamat natal, jonghyunnie.” Kata hyun joong dan sukses membuat jonghyun bergidik mendengar nama panggilannya yang terlalu sadis itu.

“selamat natal juga, joong. Aku yakin kamu pasti free, kan? Ayo kita buat natal yang meriah bersama!”

Hyun joong berdecak. Yah, betul memang kalau dia selalu free di hari-hari besar yang seharusnya dirayakan begini. Tragis memang. Tapi dia sudah tidak bisa bertemu keluarganya lagi. Karena dia memang kabur dan tidak mau menuruti segala aturan yang menjemukan. Tapi kali ini… dia merasa sepi. Dia kangen senyuman hangat ibunya. Kangen suara berat dan berwibawa ayahnya. Apa dia sudah tidak bisa bertemu mereka lagi? Kabar mereka pun hyun joong tidak tahu. Mereka kini terpisah jauh dari hyun joong yang kabur dengan nekadnya ke seoul.

“…halo? Kamu dengar aku, joong?” suara jonghyun itu segera menyadarkan hyun joong dari lamunannya tentang ayah dan ibunya.

“eh…. Iya. Kamu bilang apa tadi?”

“aku punya rencana. Aku akan membawa banyak minuman dari cafĂ© keluargaku. Lalu kamu siapkan cemilannya. Dan kita ajak key, jinki dan taemin untuk merayakannya di apartemenmu. Gimana? Oke! Akan segera kuhubungi yang lainnya. Bersiaplah! Daagh!”

“eh… tunggu! Jong—!”

Tuut…tuuutt…

“tch. Dasar!”

Hyun joong tidak bisa mengelak. Jadi, dia banting setir untuk segera ke minimarket saja. Belum berapa jauh dari rumah sakit, dia seperti melihat seseorang yang dia kenal berjalan di pinggiran trotoar. Hyun joong berjalan melambat dan menurunkan kaca mobilnya.

“taemin-ah? Sedang apa di sini malam-malam?”

Sosok itu berhenti dan menoleh. Seulas senyuman tersungging di bibirnya. “oppa! Aku Cuma jalan-jalan saja kok.”

“oh. Kalau begitu, naiklah. Udara begitu dingin. Kita rayakan natal ini sama-sama, yuk. Tapi jangan lupa untuk memberitahu orang tuamu terlebih dulu.”

Taemin terdiam, tidak segera menjawab. Dia sedang berpikir untuk mengikuti ajakan hyun joong, atau meneruskan rencana awalnya untuk pergi ke rumah, istirahat sebentar lalu bangun pagi sebelum fajar dan pergi menjenguk minho. Dia ingin saat minho membuka mata, dialah orang pertama yang dilihatnya di hari pertama setelah pergantian tahun. Memikirkannya saja sudah membuat taemin tersenyum-senyum sendiri.

“tak kusangka kamu begitu antusias sampai sudah membayangkan pesta kita nanti.” Ucap hyun joong dan dengan gerakan cepat membukakan pintu untuk taemin lalu menuntunnya masuk.

“eh… oppa…aku—tidak… um…” taemin terbata-bata. Dia bingung bagaimana caranya untuk menolak ajakan hyun joong.

“Ya?” hyun joong dengan sabar menunggu taemin berkata. Dia menatap lembut taemin yang terlihat lucu saat gugup. “katakan saja kalau kamu perlu sesuatu. Akan kubantu.”

Melihat hyun joong yang berseri tanpa dosa, Taemin menghela napas. Dia menyerah. “aku pinjam ponsel oppa untuk memberitahu umma dan appa. Ponselku jatuh ke sungai.”

——

“LAMA!” sembur key begitu hyun joong dan temin sampai di depan kamar apartemennya, ruang 301. Hyun joong Cuma bisa nyengir lebar sambil menunjukkan sekantung keresek besar cemilan yang baru dia beli dari minimarket. Juga taemin yang menenteng satu keresek lainnya.

“maaf, maaf… tadi kami terjebak antrian yang panjang.” Jawab hyun joong sambil membuka kunci pintu apartemennya dengan kombinasi password.

“key… sekarang kan kami sudah di sini. Jangan marah yaa…” hibur taemin yang sepertinya tidak berhasil. Jonghyun Cuma senyum-senyum saja melihatnya.

“HUH! Alasan. Kami disini sudah nunggu 35 menit, tahu!” cecar key sambil memanyunkan bibirnya kesal. Hyun joong terkekeh.

“iya, iya, maaf… aku menyesal. Ayo masuk. Kita segera mulai pestanya.” Hyun joong meletakkan sepatunya di rak sepatu. Lalu dia seperti teringat sesuatu. “oh ya. tapi… jangan terlalu ramai, ya.”

“kenapa?” Tanya taemin dan key berbarengan, lalu mereka saling pandang dan tertawa. Sadar kalau mereka mengatakan sesuatu yang sama berbarengan.

Hyun joong memandang mereka bergantian, berpikir bagaimana sebaiknya dia menjawab. Ada seseorang yang sakit di apartemennya. lalu ia menarik kesimpulan dan berkata, “baiklah. Sini, ayo masuk dulu. Akan kutunjukkan sesuatu.”

Key, taemin dan jonghyun menurut sambil bertanya-tanya. Mereka meletakkan barang bawaan di sofa dan meja, lalu mengikuti hyun joong ke kamarnya. Mereka bertiga menunjukkan reaksi yang sama, saat melihat jinki tertidur di kasur dengan selimut tebal serta pengompres yang ada di dahinya; kaget.

­­“oppa?” kaget taemin. dia baru ingat kalau sejak tadi pagi dia bertengkar dengan jinki, dia belum bertemu namja itu lagi. Masih tadi pagi dan ini belum pergantian hari. Banyak hal yang terjadi sampai sampai dia telah melupakan keberadaan namja itu. Entah kenapa rasanya dia luluh melihat jinki tertidur seperti itu. “oppa, jinki sakit apa? Kenapa ada pengompres di kepalanya? Apa dia demam?” Tanya taemin, menoleh pada hyun joong.

Tanpa sadar, semua menahan napas melihat reaksi taemin yang tidak seperti biasa. Kalau biasanya taemin akan acuh atau bertengkar dengan jinki, kali ini lain. Dia memandang jinki dengan lembut.
­
Hyun joong berdeham untuk mencairkan suasana. “ehm… iya. Sepertinya begitu.” Katanya. Tapi sedetik kemudian dia salah tingkah dan melesat menghilang di balik pintu. “aku menyiapkan minum dulu.”
­­
Key mendekati jinki, memeriksa suhu badan jinki di pipinya, lalu menggenggam tangannya lembut. “oppa, semoga cepat sembuh ya. Lalu ikutlah pesta dengan kami.”

“kamu harus sembuh.” Kata jonghyun singkat. Dengan begitu mereka keluar dari kamar itu. Taemin yang paling terakhir keluar, setelah dia mencium kening jinki singkat dan berbisik pelan, “mianhae… oppa”


6…5…4…3…2….1!!

“selamat natal~!!”
“selamat tahun baru~!!”
Preeeeet!! Bunyi terompet yang hyun joong tiup, disusul jonghyun dan key. Taemin kebagian menebarkan perfetti. Mereka merayakannya di balkon kamar yang tidak terlalu sempit, tapi cukup untuk mereka berempat. Semua memakai topi berbentuk kerucut berwarna-warni dan terlihat sangat bersemangat menyambut datangnya hari itu.

Di saat bersenang-senang seperti itu, Taemin tidak bisa berhenti berpikir andai saja saat ini minho disampingnya. Andai mereka merayakan hari ini bersama-sama. Membayangkannya saja dada taemin sudah berdebar kencang. Dia beralih memandangi orang-orang di bawah sana. Beberapa ada yang berpasangan. Saling bergandengan tangan. Ada juga yang, ehem… ciuman. Semuanya romantis. Membuatnya jadi iri saja.

Jonghyun menyadari raut wajah taemin yang berubah menjadi sedih. Dia menyudahi bercengkrama dengan hyun joong dan key. Lalu mendekati taemin, bermaksud untuk menghiburnya. Mungkin perasaannya pada taemin memang tidak akan pernah sampai. Mungkin dia memang tidak bisa menggantikan posisi minho dihatinya. Tapi cuma ini yang bisa dia lakukan agar bisa melihat senyum taemin, malaikat kecilnya.

Jadi, jonghyun mengambil hidung dan janggut sinterklasnya dan mulai beraksi. ^^


Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Semua sudah tertidur karena kelelahan. Bungkus snack ringan bertebaran di sana-sini, sebotol soju yang jonghyun dan hyun joong minum, terlihat berantakan sekali. Key tertidur di sofa, sedangkan hyun joong dan jonghyun di karpet.

Jika kamu bertanya taemin dimana, dia ada di kamar. Dia tidak bisa tidur sembarangan, dia tidak terbiasa seperti itu. Jadi dia istirahat di kamar—satu-satunya kamar yaitu tempat jinki tertidur.

Dia duduk di samping tempat tidur. Memegang tangan jinki lembut. Menatap mata yang tertidur itu dengan rasa khawatir. Jinki terlihat tenang-tenang saja. Seperti pangeran yang tengah tertidur.

Berbagai pikiran berkecamuk di benak taemin. Dia yang selama ini selalu salah. Mudah tersinggung atas perlakuan jinki. Rupanya hatinya dipenuhi kebencian. Sudah berapa kali sikapnya itu menyakiti jinki?
Dia menyesal. Begitu sesal hingga dadanya sesak. Tapi dia tidak menangis.

“oppa, mianhae. Jeongmal… mianhaeyo.” Katanya pelan. Nafasnya berat. “buat semua kebaikan oppa, gomawo… tapi… taemin nggak bisa memaksakan hati. Kita hentikan sampai di sini saja, ne? umma dan appa pasti mau mengerti.”

Taemin mengambil pengompres di dahi jinki, memeriksa suhu badannya. Sudah turun. Dia tidak perlu terlalu khawatir lagi untuk pergi sekarang. Lalu dengan tanpa ragu dia melangkah pergi.


Ringtone ponsel hyun joong berdering. Si pemilik melenguh karena tidurnya terusik. Ini masih pukul lima lewat empat puluh menit. Dengan mata setengah terbuka dia meraih hp nya di meja.

“yeoboseyo?” katanya berat.

Lama tidak ada jawaban. Hyun joong mengerutkan kening. Dia menatap layar ponselnya. Panggilannya tersambung, tapi kenapa tidak ada jawaban?

Saat dia mendekatkan ponselnya ke telinga, terdengar samar-samar suara tangisan.

Mendengarkan lamat-lamat kalimat yang terucap, jantung hyun joong serasa berhenti berdetak. Matanya terbuka lebar saking kagetnya. Tubuhnya seakan menjadi beku.

Matanya menelusuri keadaan apartemennya. Jonghyun… key… lalu… dimana taemin? Dia tidak ada di kamar. Tidak ada di dapur. Tidak ada di manapun.

Sesegera mungkin dia membangunkan jonghyun dan key.

“palli, ireona!” gusarnya. Belum sempat membasuh muka, dia segera mengenakan mantel tebalnya dan mengambil kunci mobil.

Key mengucek matanya dengan malas. “ada apa, oppa? Aku masih ngantuk…”

Jonghyun tidak berkata apa-apa karena dia masih setengah sadar dan sedikit mabuk.

“nggak ada waktu, kita harus cepat.” Jawab hyun joong singkat.


Pukul enam tepat mereka sampai di tujuan. Rumah sakit. Masih terlalu pagi sebab matahari masih malu menunjukkan sinarnya. Ditambah dengan cuaca yang begitu dingin sebab salju, siapa pun pasti enggan keluar rumah.

Taemin dan jonghyun tidak banyak Tanya, hanya mengikuti langkah hyun joong yang tampak begitu gusar. Langkah tergesa mereka bergema memenuhi koridor yang masih sepi.

Seorang wanita paruh baya berdiri dari duduknya begitu mereka datang. Matanya terlihat sembap habis menangis. Key menangkap perasaan tidak enak dari raut wajahnya.

“ahjumma… gwenchana?” Tanya key khawatir. Dia menenangkan wanita itu yang gemetaran. Isak tangisnya pecah lagi.

Hyun joong dan jonghyun masuk ke kamar rawat. Rupanya taemin sudah ada di sana. Berdiri diam, mematung melihat tubuh minho yang terbujur kaku diselimuti kain putih. Hyun joong menatap keduanya simpatik. Tak ada yang bisa dilakukannya untuk menolong mereka berdua. Ini semua sudah takdir Tuhan. Mutlak dan tidak bisa digugat.

“taemin… kuatkan dirimu!” jonghyun mencengkeram bahu taemin yang kaku. Rupanya dia gemetaran hebat. Jonghyun tak tega melihatnya yang begitu terpukul.

“ini… bohong.” Ucap taemin lirih. Matanya jauh menerawang dengan kesedihan yang amat dalam.

Jonghyun beralih pada minho. Dengan emosi dia menyibak kain putih yang menutupi seluruh tubuh minho. Dia hendak memukul minho dengan seluruh amarahnya. Tapi hyun joong segera menahannya.

“JANGAN BERCANDA! BANGUN KAMU, CHOI MINHO! BANGUN! BUKANKAH KEMARIN KAMU BANGUN SETELAH SEKIAN LAMA? JANGAN MAIN-MAIN!” sembur jonghyun marah. Urat-urat kemarahan terlihat jelas di mukanya yang memerah.

“jong, sadarlah! Jangan memperburuk suasana!” peringat hyun joong yang akalnya masih bekerja di saat genting ini. Tapi jonghyun terus memberontak.

“jonghyun, hentikan!” teriak key membantu hyun joong menahan ledakan amarah jonghyun. Menariknya jauh dari minho.

“APA-APAAN INI?! JANGAN JADI PENGECUT, MINHO! BANGUN!!”

DUAGH!

Key menendang jonghyun hingga terpental. Semua kaget melihatnya. Begitu pula key. Dia reflex melakukannya karena jonghyun yang terus gaduh di suasana gila seperti itu.

Dia segera menghampiri jonghyun yang terduduk karena shock.

“jonghyun… maaf. Aku… tidak bermaksud…”

Setitik air mata jatuh ke lantai. Jonghyun menangis.

“kalau minho pergi, bukan hanya dia yang terluka…” katanya lirih. “taemin juga. Dan aku tidak mau melihat taemin sedih. Bukan hanya dia yang luka. Rantai rasa sakit terus berputar menjerat orang-orang terdekatnya. Ini salah. Bukan ini yang harusnya terjadi.” Dia meninju lantai dengan putus asa.

Selanjutnya, key menangis di pelukan hyun joong yang berusaha menenangkannya. Tidak ada yang tidak hancur dengan kepergian minho.

“minho sangat beruntung memiliki teman-teman yang peduli padanya, terimakasih.” Kata wanita paruh baya itu—umma minho dengan bergetar. Dia memaksakan senyum disela tangisnya. Jonghyun bangkit untuk memeluk taemin yang tak bergeming.

Di pergantian tahun itu, di luar sana salju menderas dengan angkuhnya.



To be continued

Endless Tears 4 : Benci.

Diposting oleh Viriza Rara di 15.18
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Genre : guess it, imagine it, feel it.

Review chapter sebelumnya :
Jinki yang kalut memeluk Key tanpa sadar. Key menenangkannya, tapi hyun joong datang di saat yang tidak tepat. Mereka jadi kikuk. Hyun joong memberitahukan kalau Taemin pergi disaat ramalan badai salju akan terjadi. Mereka berencana untuk mencari Taemin sebelum badai terjadi. (note : Taemin bertunangan dengan Jinki, padahal mereka tidak saling mencintai. Taemin mencintai Minho yang sedang koma)

——
Endless tears 4
——

Taemin’s POV

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kulakukan. Hanya mengikuti kemana langkah kakiku pergi. Dan akhirnya berhenti di sini, saat aku kembali pada kesadaranku. Di tepi jembatan sungai yang permukannya membeku. Sampai saat ini, yang kupikirkan hanyalah kekesalan yang teramat sangat pada seseorang bernama Lee Jinki.

Ugh, mengingat namanya saja sudah membuatku kembali emosi. Aku tidak mau memikirkan orang munafik itu. Dia telah sengaja menginjak-injak dan mengejek kenanganku bersama Minho.

Atau itu hanya perasaanku saja.

Eh? Apa yang barusan kukatakan? Tidak mungkin. Ini semua salahnya!

Ponselku bergetar. Kuambil benda itu dari saku jaketku, dan segera kulihat siapa yang meneleponku. Layar ponsel itu menampilkan sederet angka yang tak asing bagiku. Itu nomor Jinki. Kesal, kubuang ponsel itu begitu saja pada sungai.

“Lee Jinki! Aku membencimuu!! Kuharap kamu pergi jauh dari hidupku dan tidak menggangguku lagiii!!!” teriakku sekencang-kencangnya. Tidak peduli pada keadaan sekitar yang hanya sedikit orang berlalu-lalang. Sekilas mereka menoleh padaku. Aku masa bodoh saja.

Kulempar pandanganku pada langit di atas. Tidak ada matahari di sana. cuaca sedang tidak bersahabat, sepertinya. Awan mendung menyelimuti kota ini. Cuaca terasa begitu dingin dan beku. Andai dia ada di sini... disampingku.

Minho.

Jika dia ada, aku tidak berharap dia akan menyentuhku atau memelukku untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk tulang ini. Tidak. Minho punya caranya sendiri untuk melakukannya. Dia selalu bisa membuatku merasa bahagia dengan caranya sendiri.

“Minho...”

Aku sungguh berdoa agar bisa bersama di hari esok yang belum terlihat. Sampai hari itu datang, aku tidak akan meninggalkannya. Aku tidak akan melepaskannya. Tidak akan.

Senyumku terulas membayangkan hari esok yang indah. Ketika  Minho terbangun dari komanya, aku pasti akan menjadi orang pertama yang berada di sisinya. Ya, suatu saat...

Apakah harapan itu terlalu muluk? Malam nanti adalah malam natal. Aku ingin sekali Minho bangun dan kami bisa menghabiskan malam natal bersama dengan bahagia. Mengingat kenyataan yang ada, hatiku teriris.

“Minho...”

Hanya dengan memikirkan kamu, air mata ini terus berlinang.
Diriku yang sendirian di fajar yang terhenti
Dan tak dapat melihat dirimu...

“Taemin?”

Mataku mengerjap. Suara itu menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh. Jonghyun menyambutku dengan senyum hangatnya.

——

“Sedang apa kamu, kenapa keluar sendirian di tengah badai salju?” Jonghyun memberikan padaku segelas cokelat panas, asapnya yang mengepul ditengah udara dingin begitu menggodaku. Tanpa menunggu lama, kuseruput cokelat itu sampai habis tak bersisa. Baru kusadari sedari tadi tubuhku menggigil.
“Kamu tahu, semuanya khawatir dan mencarimu kemana-mana?” tanya Jonghyun sambil menyelimutiku dengan selimut berbulu tebal yang hangat. Sku
menggeleng. Bahkan perapian hangat yang berada di tengah ruangan tidak mampu menghentikan gigilku.

Dan aku sadar, Jonghyun tidak menyinggung Jinki dalam pertanyaannya barusan, melainkan menggunakan kata 'semuanya'. Dia memang mengerti bagaimana memperlakukanku dengan baik. Dia teman yang membuatku nyaman...

Ah, mengatakannya membuatku teringat pada penolakanku setahun yang lalu padanya. Aku merasa bersalah.

“...Taemin?”

“Eh? A—apa?” tanyaku gugup, malu karena Jonghyun menangkap basah pandanganku yang masih memperhatikannya. Ia tersenyum simpul, meletakkan ponselnya di saku jaketnya.

“Kenapa? Terpesona padaku?” ia terkekeh, membuatku makin salah tingkah.

“Untuk sementara ini, kamu tinggal disini dulu saja hingga badai reda. Keadaan tidak memungkinkan untuk bepergian. Tenang saja, aku sudah mengabari semuanya kalau kamu aman. Oh ya, kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?” cerocos Jonghyun panjang lebar. Aku cuma sanggup memahami kalimat terakhirnya, sebab masih terfokus pada rasa dingin yang tak kunjung reda.

“Terakhir kuingat aku sudah membuangnya ke sungai.” kataku singkat, tak bermaksud untuk menjelaskan alasannya.

“Baiklah, aku mengerti.” Jonghyun bangkit, dan sebelum pergi, ia berpesan agar aku segera berendam air hangat supaya tidak sakit.

Aku tak menjawab. Hanya mengalihkan pandang pada jendela kaca yang tertutupi tumpukan salju. Sepintas benakku dihinggapi sebuah pertanyaan,
Terhadap kisah tentangku, Jinki, dan Minho..
Apa yang harus kulakukan selanjutnya?

Sementara aku berpikir, waktu tak pernah berhenti berjalan.

——

Author’s POV

Jinki sampai di pinggiran sungai. Di sinilah letak ponsel Taemin yang terdeteksi melalui GPS. Tapi ia belum melihat Taemin sama sekali. Tidak mungkin GPS nya tidak berfungsi dengan baik kan?

Pandangannya menelusuri sekitar. Tapi sulit untuk melihat sebab angin bertiup kencang disertai salju menghalangi jarak pandang. Bahkan untuk berdiri saja terasa sulit. Angin terus bertiup membuat syal juga jaketnya berkibar.

“Taemin...” panggil Jinki. Namun tak ada jawaban. Ia mencoba meyakinkan dirinya kalau Taemin berada di sana. Sekali lagi ia mnyeret langkahnya yang terasa berat untuk menelusuri pinggiran sungai.

“Taemin-ah.” sekali lagi ia memanggil nama itu. Nihil. Tak ada tanda-tanda kehadiran Taemin.

“...Lee Taemin! Jawab aku! Dimana kamu?!” teriaknya frustasi. Wajah pucatnya jadi kemerahan, terlihat gurat emosi di sana. Udara hangat mengepul di atmosfer dari nafasnya yang turun-naik.

Ke mana sih perginya anak itu? Kenapa dia selalu mempermainkan perasaan Jinki? Lucu sekali mengingat perlakuan Taemin padanya selama ini, dan sekarang ia mencari-cari Taemin tanpa memedulikan hal lain lagi. Padahal beberapa saat yang lalu mereka bertengkar.

Bodoh, Jinki memang bodoh. Ia terikat dengan Taemin tanpa perasaan yang pasti. Awalnya ia pikir Taemin bisa menerimanya. Tapi sekarang ini ia sadar. Mungkin ia memang tak termaafkan. Dari semua yang Taemin katakan tadi, Jinki sadar dosanya telah begitu besar. Dan ia telah begitu munafik, menyangka kalau Taeminlah yang terus menyakitinya.

Taemin...

Lihatlah Jinki berdiri di sini, sendiri di tengah cuaca yang kian memburuk. Dia ingin bertemu denganmu dan meminta maaf. Ia hampir mati beku! Dingin yang menusuk tulangnya sudah tak berasa lagi. Tapi, ia bertekad untuk tidak kembali sebelum menemukanmu, atau setidaknya mengetahui kalau kamu baik-baik saja.

Sebentar lagi. Hanya sebentar lagi saja.
Aku pasti akan menemukannya.

Jinki berusaha menguatkan diri untuk terus mencari Taemin, meski tubuhnya sudah menolak untuk dihujami dingin lebih lama lagi. Mantel tebal yang ia pakai tak mampu menghalau dingin yang luar biasa seperti itu.

Jinki mengambil ponselnya. Baru ia sadar ada satu panggilan masuk dari Hyun Joong yang terpampang di layar ponselnya.

“Jinki, kamu di mana? Cepat kembali sekarang! Jangan melakukan hal bodoh! Arasso? Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus cepat kembali!” terdengar suara cemas Hyun Joong di ujung sana.

“...Apa? Kembali? Jangan bercanda. Aku tidak bisa, Joong. Tidak sebelum aku—”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, keseimbangan Jinki hilang. Yang terakhir kali ia tahu, ia tergelincir dan jatuh. Setelahnya, ia tak merasakan apa-apa lagi. Matanya terpejam.

“Halo? Jinki... kamu dengar aku? Halo? Hey bodoh, jawab aku!! Cih, dasar keras kepala!” maki Hyun Joong kesal. “Taemin sudah aman, pabo! Cepat kembali karena aku tak mau kamu mati beku!”

——

Sementara itu, di sisi lain cerita ini...

Dia melihat semuanya. Segala hal yang membuat hatinya tersayat pedih. Dan yang paling menyedihkan adalah saat dia tak bisa berbuat apa pun.
Bukannya dia tak mau, tapi memang bukan keinginannya untuk terjebak dalam situasi ini. Semuanya terjadi begitu saja. Meski ia tahu, semuanya terjadi bukan tanpa alasan.

Dia terjebak di situasi dimana ia tak bisa menyentuh, menangis, ataupun bersuara. Yang bisa ia lakukan hanyalah melihat. Melihat segala sesuatu yang membuatnya sakit.

——

Di siang itu, dimana salju mulai turun dengan derasnya, ia berada di kamar. Hanya diam saja melihat yeoja disampingnya tengah menulis, sambil sesekali titik air matanya jatuh membasahi surat yang ia tulis. Ingin sekali rasanya ia mengusap air mata itu, tapi tak bisa.
Kemudian yeoja itu terlibat pertengkaran dengan namja lainnya. Ingin ia menghentikan perdebatan itu, bahkan saat ia berdiri di antara mereka, kehadirannya tak dihiraukan. Hingga akhirnya yeoja itu berlari pergi. Karena ia tak berguna. Tak bisa mencegah kepergian yeoja itu, atau menarik lengannya agar tetap tinggal.

Jadi, pilihan satu-satunya adalah mengikuti yeoja itu.

Ia terus mengikuti kemana yeoja itu pergi. Hingga akhirnya berhenti di pucuk jembatan sungai. Beberapa lamanya dia terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lalu tiba-tiba ia melempar ponselnya dengan kesal. Dan yang paling membuat kaget, yeoja itu berteriak keras sekali.

“Lee Jinki! Aku membencimuu!! Kuharap kamu pergi jauh dari hidupku... dan tidak menggangguku lagiii!!!”
Ia terkekeh. Lucu melihat yeoja itu begitu kesal dengan wajahnya yang memerah. Terlihat begitu manis dan imut. Sesaat kemudian pandangan yeoja itu terarah pada langit.

Ia pun melihat hal yang sama. Ingin dia mengetahui apa yang tengah yeoja itu pikirkan.

“Minho..”

Yeoja itu memanggil namanya. Seolah tak menyadari keberadaannya yang begitu dekat.

Ya, Taemin?
Jawabnya, namun ia tahu suaranya tak akan pernah sampai.

Sekali lagi, dengan suara yang tercekat, yeoja itu memanggilnya. Dia terlihat menahan tangis.
Hatinya terasa pedih.

Tak perlu mencariku. Aku di sini. Aku di sini. Aku mendengarmu.

Tapi yeoja itu, Taemin, sama sekali tak menyadari keberadaannya.

Ia melihat bulir-bulir air mata yeoja manis itu, air mata Taemin. Untuk yang ke sekian kalinya, lagi-lagi dia menangis, entah karena sedih oleh kenyataan, atau karena rindu. Ia tak bisa mengartikan air mata yang ambigu.

Jangan menangis, Taemin...

Satu hal yang disesalinya. Ia tak bisa merengkuh Taemin, menghentikan tangisnya dan membuatnya tersenyum lagi. Seperti dulu. Percuma saja, tak ada yang bisa dilakukannya saat ini.

Aku ingin bertemu denganmu. Kuingin menyentuhmu.
Karena mencintaimu, begitu sakit...

Maka, dengan keinginan yang sangat kuat, dan sudah lama dipendamnya,
Ia ingin pulang agar bisa kembali ke sisi Taemin.

——

Perlahan, kelopak matanya terbuka. Ia merasa asing dengan tempat itu. Itu bukan kamarnya. Dimana ia?

Ah. Dia ingat. Ini di rumah sakit. Tempatnya berada selama ini.

“..Minho?”

Seorang namja berambut pirang mendekatinya. Ia terlihat kaget, sekaligus senang. Minho berusaha keras mengingat siapakah dia. Rasanya tidak begitu asing.

“Ada apa, oppa?” tanya seorang yeoja manis pada namja itu, lalu saat pandangannya beralih pada Minho. Sama seperti namja yang dipanggilnya ‘oppa’ ia terlihat kaget juga. “Omo! Minho! Kamu sudah sadar?”

Namja itu beranjak pergi. “Aku akan panggil dokter.” katanya. “Lalu, jangan mencariku jika aku tidak kembali.”

Yeoja manis itu mengangguk dengan perasaan bingung, merasa bersalah. Mungkinkah namja itu marah karena beberapa waktu sebelumnya ia berpelukan dengan namja lain? Dan kembali pandangannya terarah pada Minho. Kedua tangannya meraih tangan Minho dengan lembut, lalu diusapnya.

“Kami sangat mencemaskanmu, juga merindukanmu. Syukurlah kamu sadar... banyak hal yang terjadi... Tapi...” yeoja itu menggantung kalimatnya. Saat pandangannya kembali pada Minho, ia tersenyum. “Pokoknya, sekarang kamu istirahatlah dulu. Aku akan mengabari yang lain.”
Lalu saat yeoja itu sibuk dengan ponselnya, Minho dengan susah payah bersuara.

“Siapa?”

Hampir saja ponselnya terjatuh. Ia memandang Minho, nafasnya tertahan.

——

Mendengar kabar Minho yang sudah sadar, Taemin tidak bisa menahan dirinya untuk segera menemui Minho di Rumah Sakit. Batinnya bergejolak. Minho sudah sadar, katanya berulang kali dalam pikirannya. Tapi ada satu sesal, kenapa bukan dia yang berada di sisi Minho, yang akan menjadi orang yang pertama kali Minho lihat saat tersadar?

Tapi... sudahlah tak apa. Itu tidak begitu penting—meski penting juga baginya. Yang penting Minho telah sadar! Ia teringat tadi saat Key menelepon Jonghyun,

“Oppa... Minho.... Dia... sudah sadar.” Jeda. “Tapi... aku... aku tidak.... dia...”

“Ada apa, Key? Bicara pelan-pelan saja. Tenangkan dirimu, dan bicaralah dengan lebih jelas.” Kata Jonghyun.

Tanpa berpikir dua kali, Taemin menyambar jaketnya. Lalu sepatu boots nya ia pakai.

“Taemin-ah... kamu mau kemana?”

“Oppa, gomawo buat semuanya. Aku sudah lebih baik sekarang. Tapi aku harus pergi.”

“Taemin, tunggu! Hey... Taemin! Key, sudah dulu ya. Aku tidak mau Taemin kembali tersesat.”

Klik!

Jonghyun  mengakhiri hubungannya lalu segera berlari menyusul Taemin.

——

Pintu kamar itu terbuka dengan suara yang cukup keras. Taemin dan Jonghyun masuk ke dalam. Mereka terengah-engah. Tanpa menunggu apa-apa lagi, Taemin berjalan mendekati ranjang pasien.

“Minho?!” panggilnya tidak percaya. Minho terduduk di ranjangnya. Dia menatap taemin. Dahinya berkerut seolah bertanya-tanya, siapakah makhluk aneh yang datang dengan terengah dan langsung memanggil namanya itu?

Minho mengerjap bingung. “Kamu... siapa?”

Key menahan napasnya. Saraf-sarafnya menegang. Begitu juga dengan Jonghyun.

“Kamu dengar, Taemin? Mungkinkah dia...”

Sejenak Taemin terlihat kaget, tapi dia bisa segera menguasai dirinya. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Minho, hingga jarak mereka hanya sekitar dua senti. Lalu kedua tangannya memegang dengan lembut pipi Minho. Tangan Taemin terasa begitu dingin di kulit Minho yang hangat.

Tuk!

Dahi mereka bersentuhan. Mata keduanya bertemu pandang.

“Aku tidak akan tertipu dengan leluconmu itu, Minho.” Taemin tersenyum menang. Dia berhasil membuat wajah Minho seperti kepiting rebus. Memerah dan hangat.

Taemin menarik tubuhnya untuk kembali berdiri, lalu menatap Key dengan senyum kemenangannya. “Aku menang. Tipuan kalian kuno sekali.”

Key tertawa, lalu menghambur untuk memeluk Taemin.

“Taemin! Kamu kembali! Kemana saja kamu? Kami semua mencemaskanmu, tahu!” katanya senang.

Jonghyun duduk di kursi samping ranjang, dia berbincang dengan Minho yang dijawab dengan patah-patah oleh Minho.

“Jadi, bagaimana keadaan Minho kata dokter?” tanya Taemin pelan setelah menggiring Key ke dekat jendela, untuk menghindari Jonghyun dan Minho dari perbincangan mereka.

“Seperti yang kamu lihat,” jawab Key. “Dia baik. Tapi saraf-sarafnya masih kaku karena sudah lama tidak digerakkan. Jadi mungkin butuh beberapa lama untuk pemanasan dulu, dia belum bisa kemana pun dengan bebas. Masih harus dalam pengawasan dokter. Ada apa? Kamu mau mengajaknya kencan, ya?” tanyanya dengan nada menyelidik.

“Eh... nggak... bukan itu, kok.” Mata Key menyipit untuk memastikan kebenaran kalimat Taemin. “Hm... aku... sebenarnya memang mengharapkan malam natal yang tak terlupakan. Itu wajar, kan?” lalu Taemin tertawa sendiri. “tapi aku tahu aku nggak boleh egois. Lagipula, kalau Minho masih harus beristirahat, aku akan menemaninya. Itu juga sama indahnya dengan natal yang lain.”

Key jadi senyum-senyum sendiri. “Kamu beruntung. Aku jadi iri. Aku bahkan tidak bisa berharap merayakan natal bersama orang yang kusukai.” Lalu ia menghela napas, “huh... andai saja aku dan hyun—“ ups! Key buru-buru menutup mulutnya. Hampir saja rahasianya bocor.

“Hyun? Siapa? Hyun Joong-Oppa? Jonghyun? Jo Hyun Jae? Lee Donghyun? Hmm... tidak mungkin.” Tanya Taemin bertubi-tubi. Kali ini dia yang menyelidiki Key sampai merasa terpojok. “Jadi? Siapa itu Hyun mu?”

“Ng... itu...” key mencoba untuk mencari alasan atau topik lain. Tapi otaknya terasa buntu untuk berpikir. Taemin terus menatapnya dengan mata bundar yang jernih itu. “Bukan siapa-siapa, kok. Dia Cuma teman. Kami tidak punya hubungan istimewa.”

Taemin mengatupkan mulutnya. “Cinta bertepuk sebelah tangan?” lalu dia menepuk-nepuk bahu Key dengan akrabnya. “Tenang saja. Aku pasti akan membantumu, Key! Fightingg~!” katanya antusias.

Key cuma bisa tertawa hambar.

——

Malam yang dingin. Langit tak bertabur bintang, hanya berupa hamparan hitam gelap yang tak ada batas. Cuaca yang ekstrim sudah berakhir tadi sore. Badai salju telah reda menyisakan dingin yang hangat di malam natal. Orang-orang bersemangat menyambut malam ini. Lampu-lampu jalanan dan aksesori serta hiasan-hiasan natal yang dipajang di sana-sini ikut menyemarakkan perayaan natal. Badut santa klaus menyambut pejalan kaki dan anak-anak kecil. Semua bersukacita.

Namun, lain halnya dengan hyun joong. Dia hanya merayakan malam yang sepi itu sendiri—sebenarnya dengan Jinki yang tidur—di apartemen sederhananya itu. Ya, sepi. Hanya ada pohon natal kecil di atas meja ruang tamu. Tidak meriah. Itu bukan kesukaannya. Dia tidak berniat untuk menyalakan TV atau speaker untuk membunuh sepinya. Tidak. Lebih baik dia yang menggitar sendiri. Tapi pilihan itu juga tidak dilakukannya.

Jadi, dia hanya diam sambil membaca buku di sofa berwarna coklat gelap itu. Sejenak pikirannya tidak berhenti memikirkan Jinki, sahabatnya yang tertidur pulas di kamar. Ia teringat tadi saat dia menemukan Jinki tertimbun salju. Tubuhnya beku, dingin sekali dan kulitnya membiru. Saking cemasnya, Hyun Joong langsung membawa Jinki ke apartemennya—yang kebetulan tidak jauh dari sungai tempat dia menemukan Jinki.

Sahabatnya itu memang terlalu bodoh. Padahal jika dalam pelajaran sekolah, dia genius yang tak terkalahkan di sekolah. Tapi jika soal cinta, dia sama sekali tidak ada banding bodohnya.

Hyun joong menyesap kopinya yang masih panas. Meletakkan buku yang ia baca ke meja. Tidak fokus untuk membacanya sekarang. Dia bermaksud untuk menjenguk Minho, serta jika bisa, sekaligus bertemu Key. Tapi dia tidak ingin menceritakan soal Jinki pada mereka. Tidak perlu.
Segera dia mengambil mantelnya yang berbulu tebal, lalu bergegas pergi.

——

Taemin tidak bisa berhenti tersenyum. Dia senang sekali bisa bersama Minho di hari yang spesial seperti ini. Ini adalah kesempatan yang selalu
dinantikannya. Yah, meski Cuma dengan cara sederhana, melihat langit yang gelap di atap gedung Rumah Sakit. Tentu saja Minho dilarang oleh dokter untuk terkena angin dingin, atau berjalan menaiki tangga. Tapi Minho bersikeras untuk melakukannya. Dia sama keras kepalanya seperti Taemin.

“Minho...”

“Hmm?”

“Gomawo, sudah kembali...” kata Taemin kalem, dia tersenyum manis.

“Mwo? Aku nggak dengar.” Goda Minho.

“Kalau kamu nggak kembali, aku nggak tahu akan menghadapi hari yang seperti apa.” Sambung Taemin tak mempedulikan omongan Minho.

 “Tapi... kamu tahu? Banyak hal yang terjadi saat kamu tidur. Hal yang luar biasa.” Taemin menghentikan kalimatnya. Tidak ingin berkata kalau hal itu bisa mengubah takdir mereka nantinya.

Minho terdiam. Membiarkan Taemin meneruskan ceritanya. Dia memandangi wajah Taemin lekat-lekat. Sudah lama sekali rasanya tidak melihat wajah itu secara langsung. Sekarang... rasanya sudah berbeda. Ada yang berbeda dari Lee Taemin.

“Aku... aku... sebenarnya, Minho...”

Dia menelan ludah. Dia tahu. Pasti Taemin ingin bilang kalau dia sudah bertunangan dengan Jinki. Sedikit ada penyesalan dalam dada Minho. Tapi ia tepis rasa itu. Demi kebaikan Taemin, dia harus merelakannya. Itu pilihan satu-satunya saat ini. Toh, sebelum cerita mereka berakhir, Taemin sudah memiliki seseorang yang bisa Minho percayai untuk menjaganya.

“Kamu mau menembakku?”

Keseriusan Taemin buyar seketika. Matanya mengerjap. Minho dengan polosnya bertanya seperti itu dengan wajah tak berdosa.

“Eh? Aku—menembakmu?” taemin mencoba mencerna kalimat itu. “—yang benar saja! Jangan terlalu percaya diri dong, dasar kodok jelek!”

Minho tertawa. Dia masih bisa melihat Taemin yang dulu. Setidaknya... hadiah sebelum semuanya berakhir.

“Taemin.” Panggil Minho kalem, tapi pasti. “Bagaimanapun keadaan hari esok, jangan menyesal dan jangan menyerah. Mungkin hal yang kamu inginkan tidak tercapai, tapi orang-orang disekitarmu akan terus mendukungmu. Jangan ragu dengan semua yang tidak sesuai keinginanmu. Karena... dunia itu tetap sama. Kamu harus menggenggam erat mimpimu dan berlari untuk meraihnya.”

Taemin menatap minho dengan bingung. Dia sama sekali tidak bisa mencerna apa yang Minho katakan. Tanda tanya besar sudah tergambar dipikirannya.

“Kamu ngomong apa sih? Langsung ke intinya saja deh. Aku sama sekali nggak ngerti.” Kata Taemin polos.

“Aku mau bilang kalau...” Minho menggantung kalimatnya. Dia menatap Taemin yang balik menatap ke arahnya. Mata mereka saling bertemu pandang dalam jarak yang dekat.

“Duniamu belum berakhir.” Dan Minho menyandarkan kepalanya di bahu Taemin. Napasnya mulai teratur dan halus.

“Maksudmu?”

Minho tidak menjawab. Taemin menahan napasnya. Dia mengarahkan tangannya pada hidung Minho. Masih bernapas.

“Tidur yang nyenyak, Minho... aishiteru.”

———
Endless Tears 4—END.


[ Vistory ]

Halaman

Pages

Cari Blog Ini

Jumlah Pengunjung

 

SAN3R Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting