Kamis, 26 Februari 2015

Endless Tears 6 (END) : Cinta Tidak Mengenal Batas

Diposting oleh Viriza Rara di 15.25
Reaksi: 

Sekali Lagi, Temukanlah Aku...


credit photo to : frasa rose.
makasih buat covernyaaa, roseee~
***
Semua orang berbalut pakaian hitam. kerabat, teman, guru... semua datang untuk mengucapkan 'turut berduka', dan mengantar Minho ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Ah, Choi Minho yang malang. dia masih terlalu muda untuk pergi selamanya. siapa yang menyangka dia akan pergi secepat ini, sementara kemarin dia baru saja bangun dari koma. orang tuanya yang selama ini selalu melupakan Minho karena pekerjaan pun terlihat terpukul.

Kedua mata Key bengkak dan sembap. dia sudah berusaha untuk menutupinya denganmake up tapi tidak berhasil. hyun joong duduk di sampingnya dan membiarkan Key bersandar di bahunya. jonghyun sibuk dengan ponselnya, dahinya berkerut dan ia terlihat tak tenang. riwayat panggilan keluarga berderet nama taemin sebanyak tiga puluh kali. tapi tak satu pun dari panggilan itu terjawab.

"aku akan mencarinya." kata jinki dengan suara parau. jas hitamnya dia ambil dan langsung berdiri.

jonghyun mencegahnya, menarik lengan sahabatnya itu. "bersabarlah, sebentar lagi dia pasti datang, jinki." katanya meyakinkan. dia menelan ludah."dia... pasti baik-baik saja."

jinki tersenyum sinis. wajahnya masih terlihat pucat. dia belum benar-benar sembuh dari demamnya kemarin, dan lagi tadi pagi hanya sempat menyantap sepotong roti.

"kamu menyuruhku bersabar? tsk. lihatlah dirimu, jonghyun. siapa yang paling tidak yakin dengan keadaan taemin sekarang? aku... atau kamu?"

"itu karena aku peduli padamu!! apa kamu tahu bagaimana keadaannya? kamu juga tidak percaya padanya, bukan?" teriak jonghyun. tangan jinki disentakkan olehnya. perhatian orang-orang beralih pada mereka. jonghyun salah tingkah,jadi dia kembali memelankan suaranya. "dengan keadaan seperti itu, kamu mau mencarinya? tch. jangan bercanda. siapa yang akan menolongmu kalau kamu pingsan di jalan?"

tatapan jinki menjadi dingin. sedingin tangannya saat ini. "kalau begitu, jangan pedulikan aku. aku bisa menjaga diriku sendiri. aku tak butuh pertolongan." katanya dan berlalu meninggalkan mereka bertiga.

"tch.sombong sekali, si kepala batu itu!" gerutu jonghyun. hyun joong dan key tidak bisa berkata apa-apa lagi. hanya menghela napas memaklumi pertengkaran itu.

**

Umma, appa, mianhamnida. jeongmal mianhamnida. aku pergi. jangan mencariku.
Taemin

DUGG!!

jinki memukul setir mobilnya frustasi. langit malam sudah menyelubungi kota, tapi dia masih belum menemukan taemin. di apartemen... di sekolah.. di tempat-tempat yang mungkin dia datangi. di mana pun dia tidak ada.

saat ia pulang dari pemakaman minho tadi, dia langsung pergi ke rumah taemin untuk bertemu dengannya dan meminta maaf. dia akan melakukan apa pun asalkan taemin mau memaafkannya. tapi yang dia temukan adalah sepucuk surat itu dan cincin pertunangan mereka. apa ini artinya taemin telah memutuskan hubungan dengannya?
tch.lelaki macam apa dia, yang tidak bisa menjaga dan melindungi kekasihnya?

semua ini sudah cukup membuat jinki hampir kehilangan akal. baru kemarin dia hendak meminta maaf pada taemin. tapi saat terbangun, tiba-tiba saja minho sudah tiada. sekarang, bahkan kata maafnya tak bisa membayar hutangnya pada taemin. dia sudah terlalu berdosa dengan memenjarakan taemin dalam hubungan yang tidak diinginkan yeoja itu, memaksa hatinya, lalu menghancurkannya.

ya. betapa bodohnya ia karena baru menyadari hal itu sekarang. selama ini dialah yang salah. dari awal dia tidak tegas dalam hubungan mereka. sudah sewajarnya bagi taemin untuk menolak dan menentang apa yang tidak diinginkannya.

dan hari ini yeoja itu pergi. mungkin inilah titik dimana dia sudah tidak bisa menahannya lagi. dia sudah terlalu lelah dengan semuanya, sampai tidak ingin melihat wajah jinki lagi. surat dan cincin yang terlepas itulah buktinya.

embun mulai menghalangi pandangan jinki. dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menghalangi embun itu agar tidak jatuh.

mianhae, taemin...
gwenchana. pergilah. temukan kebebasan yang telah kurenggut darimu. lupakan aku. buang semua bebanmu. dan, kumohon... berbahagialah...

saranghae.

**

SEOUL, 7 tahun kemudian.

waktu begitu cepat berlalu. rasanya baru saja kemarin mendapat pukulan terberat dalam hidup. merintih atas pedih, meronta pada luka, mengutuk takdir dan mengemis pada dunia. tapi semua itu telah berlalu. sekarang bahkan sudah bisa menghirup udara dengan bangga. sungguh perubahan yang drastis.

poster,banner, pamflet, dan berbagai media cetak lain tak hentinya membahas berita tentang penyanyi yang sedang berada di puncak. kim hyun joong dan partnernya, kim jonghyun. mereka adalah duo kim yang tak terkalahkan (setidaknya untuk saat ini). hyun joong oppa yang cool, dan jonghyun oppa yang tampan. disamping itu suara mereka sangat menghipnotis. semua gadis-gadis di negeri ini tersihir oleh pesona mereka.

"apa katamu?"

terdengar bunyi 'bruk' saat key menaruh tumpukan dokumen di atas meja. dia menepukkan kedua tangannya utnuk membersihkan debu, lalu melirik hyun joong.

"variety show dan wawancara eksklusif Hot Star hari ini dibatalkan. ani, maksudku ditunda. kemarin aku menelepon pihak Hot Star untuk meminta maaf dan membatalkan acara ini saja, tapi mereka tetap berkeras ingin melaksanakannya. katanya ditunda pun tidak apa." jelasnya. "aish... sekarang ini kamu benar-benar populer, oppa. bahkan sampai kamu menolak acara demi kepentingan pribadi."

"apa yang kamu lakukan, key?" hyun joong berhenti menyesap kopi panasnya. dia menatap key sambil menaikkan sebelah alisnya. "aku tidak memintamu untuk melakukannya. aish... hancur sudah. dengan begini mereka akan menganggap kita tidak kompeten, tidak profesional. dan belum lagi, apa yang akan kamu lakukan untuk tiket-tiket yang sudah habis terjual?"

key memutar bola matanya. dia sudah tahu kalau hyun joong akan menjawab seperti itu, maka dia sudah mempersiapkan jawaban untuk hyun joong. bisa gawat kalau oppa yang satu itu ngambek. ternyata pekerjaan seorang manajer itu tidak semudah yang dia bayangkan. ini malah sangat sangat merepotkan sekali.

"kim kibum?" hyun joong menuntut jawaban karena key diam saja.

"aih, jangan memanggilku dengan nama itu!" gerutu key kesal. "ya, ya! aku mengerti! itu semua karena-"

"key terlalu antusias untuk menikmati hari libur bersamaku, jonghyun oppanya. selamat pagi, key sayang~"

jonghyun tiba-tiba datang dan merangkul key.

"mwo?" key menghujam jonghyun dengan tatapan membunuh.

"YA!KIM JONGHYUN! siapa kamu bisa menyentuh key seenaknya? hentikan!" hyun joong bangkit dan segera merebut key dari jonghyun.

"memangnya kenapa? kamu keberatan?" ejek jonghyun menjulurkan lidahnya.

hyun joong menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya, dan cincin yang serupa di jari manis key. jonghyun memutar bola matanya malas.

"nan-a-ra-sso. sudah berapa kali kamu menunjukkannya? tapi... kalau kamu terus bersikap dingin pada key..." jonghyun menyeruput habis kopi panas hyun joong (pemiliknyaterlihat tidak terima). "key bisa kurebut, lho." katanya disertai senyum nakal.

"key, buatkan kopi panas lagi. untukku... dan joongie tersayang..." kata jonghyun. dia sengaja memakai tersayang dalam arti yang sebaliknya.

key menurut, segera meninggalkan kedua cowok yang siap bertarung. mereka saling tatap, sampai ada petir menyambar-nyambar di sekitar mereka. hyun joong menatap tajam dengan aura merah membara, sedangkan jonhghyun tersenyum licik dengan aura hitam pekat.

di dapur, key menyeduh kopi sambil bersenandung kecil. dia merasa senang karena pagi hari hyun joong sudah menunjukkan kecemburuannya. manis sekali, hihihi...

tidak lupa key menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. karena jadwal mereka hari ini sudah diundur, mereka bisa bertemu dengan sahabat mereka. dua jam lagi, di bandara.

**

tuk.tuk. tuk.

sepasang pantofel hitam mengetuk marmer itu berulang kali. sesekali berhenti, lalu berkeletak-keletuk lagi. pemiliknya melihat jam, dia tampak kecewa dan mendesah.

"aish..di mana mereka? kenapa belum datang juga?" gerutu pria itu. matanya sibuk mencari-cari orang di antara lalu lalang bandara yang ramai.

"anda datang lebih pagi dari waktu janjian, direktur." sahut pria klimis disampingnya dengan formal. "apa anda mau berjalan-jalan sebentar? masih ada dua puluh menit sebelum waktu janjian dan tiga puluh lima menit sebelum pesawat anda lepas landas."

lee jinki, pria yang dipanggil direktur itu tersenyum. "kamu benar. aku mau mencari udara segar dulu. telepon aku kalau mereka datang, park."

"baik, direktur."

jinki keluar dari ruangan itu, berjalan santai ke mana pun sesuka hatinya. pemandangan luar lebih asik untuk dinikmati daripada dalam ruangan tadi. setidaknya... di luar tidak ada dinding pembatas yang terlihat mengekang.

jinki memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam udara yang menyegarkan. sebentar lagi dia akan meninggalkan kota ini untuk sementara, jadi menikmatinya sebentar tidak apa-apa, kan?

BRUK!

seseorang menabrak punggungnya.

"mianhae! mianhamnida, ahjussi!"

saat jinki berbalik, seorang perempuan berambut panjang membungkuk. tapi belum sempat jinki melihat wajahnya dan berkata sesuatu, perempuan itu keburu pergi dengan tergesa-gesa. ia menyeret koper yang besar dan satu tas jinjing. ia melangkah menuju taksi yang sedang menunggunya. setelah dia menata koper dibagasi dan memberikan tas jinjing itu, seorang perempuan tua berada di kursi penumpang mengucapkan terima kasih padanya. dia membungkuk hormat sampai taksi itu pergi.

jinki menghampiri perempuan itu. dia belum sempat minta maaf. bagaimanapun juga, dialah yang salah karena berdiri ditengah jalan. dia perlu memastikan kalau yeoja itu tidak terluka.

"tunggu, nona! maaf... aku-"

yeoja itu menoleh. mereka terdiam beberapa saat. kata-kata jinki tertahan ditenggorokannya. dia begitu cantik. matanya bulat dan jernih, kulitnya seputih awan beku, dan rambutnya panjang hingga menyentuh punggung. kecantikan yang sempurna.

"kau..." jinki masih belum percaya dengan yang dilihatnya. "taemin...?"

apa jinki terlalu lelah sampai berhalusinasi yang aneh-aneh?
tidak.
kalau ini halusinasi, kenapa tangan yeoja itu terasa nyata dalam genggamannya?

"annyeonghaseyo...oppa. lama tidak bertemu."

jinki mengerjapkan matanya tak percaya. ini mimpi. dia tak bisa bernapas saking tegangnya.
"benar...taemin? lee.. tae.. min..?"

yeoja itu mengangguk. "ne, oppa."

bahkan setelah bertahun-tahun jinki masih bisa mengingat dengan jelas suara yang sama persis dengan itu. tapi kini agak berubah sedikit lebih.. lembut?

entah kerasukan apa, jinki langsung memeluk yeoja itu, taemin. dia rindu. sangat sangat rindu. selama ini pun dia tak hentinya mengkhawatirkan taemin.
begitu banyak yang ingin dia tanyakan pada taemin.
selama ini ke mana saja? kau tinggal di mana? apa kau makan makanan instan terus? bagaimana keadaanmu?

tapi yang sanggup jinki katakan hanyalah, "taemin-ah... mianhae. mianhae. mianhae. jebal... pulanglah. hm?" pintanya.

"oppa...tidak mencari penggantiku?"

"tentu saja!" sahut jinki cepat. bagaimana ia bisa mencari pengganti taemin, jika dia hanya menyukai yeoja itu? sudah beberapa yeoja dia tolak, karena dia menunggu dan percaya taemin akan kembali. dia tau, taemin hanya butuh waktu untuk menyendiri tanpa siapa pun mengganggu.

"waeyo? ish! jinjja... pabo! bagaimana kalau aku tidak kembali? apa yang akan oppa lakukan?"

jinki melepas pelukannya, membiarkan tatapan mereka beradu. ada sebersit keseriusan dalam mata taemin yang tegas. apakah itu artinya, sejak awal dia memang tak berminat untuk kembali?

"yah...kita lihat saja untungnya. mungkin aku bisa melepas tanggung jawabku, membakar semua kontrak, dan kabur ke tempat yang sangat jauh dengan orang yang diam-diam kusukai dan hidup bahagia selamanya?" jinki menimbang-nimbang. tersenyum lebar, lalu bertepuk tangan sekali. "ide yang tidak buruk juga. kenapa aku tidak berpikir seperti ini dari dulu?"

taemin manyun. kecewa karena penilaiannya terhadap jinki meleset. namja itu sama menyebalkannya seperti dulu, tidak ada yang berubah!
"ish! kukira oppa menungguku! aku salah besar. aku menyesal!" gerutunya sambil mengentakkan kaki.

sebelum taemin kabur secepatnya, jinki sudah menarik pergelangan tangannya. menahan kekesalannya, wajah taemin justru makin terlihat imut. tawa jinki meledak.

"kenapa tertawa? tidak ada yang lucu!" bentak taemin ketus. "lepaskan!"

"kalau iya... bagaimana?" jinki mempertahankan genggaman pada lengan taemin. tidak ingin melepasnya pergi seperti dulu. tidak lagi.

"apa maksudmu?"

orang yang kusuka itu adalah kamu.

sekali lagi, jinki tersenyum. pesonanya meningkat saat itu membuat taemin tak bisa mengalihkan pandangannya. tidak. praduganya benar, bahwa jinki telah berubah. dia jadi makin dewasa, berkharisma dan... tampan. omo! apa yang ia pikirkan?

jinki mengelus rambut taemin lembut. menyisirnya ke belakang agar poni tidak menghalangi pandangannya.

"aku menunggumu. aku tidak mencari penggantimu, karena aku tahu kau akan kembali. dan aku yang akan membawamu pulang."

"whoa, percaya diri sekali! kalau aku tidak mau? apa yang akan kau lakukan?" taemin menyolot tak mau kalah.

"kau mengujiku?"

taemin memalingkan wajah. bersikap arogan, tapi sebenarnya dia sangat ingin tahu jawabannya. jinki mengembangkan senyum.

tiba-tiba jinki mengecup rambut taemin. taemin yang tidak menduganya kaget, detak jantungnya mendadak berpacu. satu poin lagi yang perlu diingat, jinki jadi lebih cabul!

"ya! kau- waaa-"

teriakan kaget taemin itu karena jinki menggendongnya seperti seorang putri. refleks dia memeluk leher jinki agar tidak terjatuh.

"maka, aku akan melakukan ini. maaf, tuan putri. aku terpaksa melakukannya karena kau tidak memberiku pilihan lain." katanya santai. mereka saling tatap. sejenak melupakan segalanya, terkunci dalam dunia mereka sendiri. hanya sebentar lagi. biarkan seperti ini sedikit lebih lama. jinki enggan melangkah pergi. ia masih ingin bersama taemin...

"ayo, mereka pasti sudah datang." tapi jinki harus tahu batas. ia menahan keinginannya itu dan segera melangkah ke ruang tunggu bandara.

"mereka? siapa...?"

benar saja. setibanya di sana, semua sudah berkumpul untuk melepas keberangkatan jinki ke jepang. jonghyun, hyun joong, key, dan pengacara park. gurauan mereka terhenti saat jinki datang.

"yo! kami datang, jinki!" sapa jonghyun. "siapa yeoja cantik itu? pacarmu?"

jinki menurunkan taemin dari gendongannya. saat ia menginjak lantai, semua menahan napas dan tak berkedip. taemin jadi salah tingkah. ia menunduk malu-malu dan menyibak rambutnya ke belakang dengan kalem.

"halo, teman-teman. lama tidak bertemu..."

"ta-ta-ta-taemin? uri... taeminnie?" gagap jonghyun tak percaya.

"benarkah...itu kau?" key mendekat untuk memastikan.

"ini luar biasa. senang bisa bertemu denganmu lagi, taemin." komentar hyun joong tenang.

"annyeonghasimnikka, nona muda. senang bertemu anda kembali." pengacara park membungkuk hormat.

tangan key memeluk taemin. ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatir, senang, rindu,dan haru yang bercampur aduk. air matanya tumpah seketika.

"kamu kembali... syukurlah. bagaimana kabarmu?"

taemin tersenyum dan membalas pelukan key. "aku merasa lebih baik sekarang, key."

"kau tumbuh makin cantik, taemin. aku hampir tak mengenalimu." ucap hyun joong.

mata jonghyun memerah menahan rasa haru yang membuncah. ia membalikkan badannya saat air matanya jatuh setetes. ia sangat bahagia melihat taemin kembali dan terlihat baik-baik saja.

"oppa keren sekali. aku suka lagu-lagu oppa." balas taemin lembut.

"gomawo."

acara reuni itu terputus saat pengacara park berdeham. "direktur, sebaiknya kita bersiap-siap. sepuluh menit lagi kita berangkat." katanya mengingatkan.

taemin beralih pada jinki. "sepertinya... oppa sangat sibuk, ya?" tanyanya kecewa.

jinki tersenyum lagi. sebenarnya ia pun masih ingin bertemu taemin. Tapi ia tak bisa meninggalkan tanggung jawabnya. pertemuan mereka memang tak direncanakan sebelumnya, tapi masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan.

saat ini, kebahagiaan dan kerinduan yang dirasakannya begitu besar, sampai-sampai kakinya hampir tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Tuhan, ia tak mau beranjak dari kebahagiaan ini...

"aku akan segera kembali. jaga dirimu, ne?" jinki meraih tangan kurus taemin, lalu mencium punggung tangannya. "saat aku kembali nanti, kita bisa memulai lagi dari awal. kamu mau, kan?"

taemin menggeleng. "shireo."

"shireo?" jinki mengangkat wajahnya untuk menatap taemin. "wae?"

"akun ggak mau memulai dari awal, oppa. aku sudah siap menjadi nyonya lee." senyum taemin mengembang.

jonghyun bersiul menggoda, hyun joong dan key bertepuk tangan. mereka ikut bersuka cita dengan jawaban taemin. jinki mengangkat taemin dan menggendongnya sambil berputar. mereka bahagia, ingin rasanya menebar kebahagiaan pada orang-orang disekitarnya.

*

pertengahan musim panas tahun ini, jinki dan taemin akan menikah. acaranya digelar di gedung dengan fasilitas terbaik dan megah. tak sulit bagi mereka untuk menyewa tempat mahal, mengingat keluarga Lee pemilik sah Ocean Corporation.

Taesun akan sibuk dua kali lipat karena setelah pernikahan harus memimpin perusahaan sendiri, tanpa jinki untuk sementara waktu. sebagai pengantin baru, tentu saja mereka wajib berbulan madu. dan kali ini destinasi honey moon mereka adalah selandia baru dan indonesia.

tetapi, lagi-lagi taemin menghilang. tepat satu jam sebelum resepsi pernikahan ditemukan secarik kertas di meja rias.

'oppa, temukan aku.' dari taemin.

akhirnya semua orang kembali kelabakan mencarinya. jinki memikirkan satu tempat yang sangat mungkin didatangi taemin. ia mengencangkan sabuk pengaman, lalu berangkat untuk mampir ke suatu tempat.

*

minho, bagaimana kabarmu?
maaf lama tidak mengunjungimu.
kelemahanku membuatku perlu waktu untuk menerima kepergianmu. apa kau marah?
minho... hari ini aku akan menikah. maafkan aku. jangan marah, ya?
aku memutuskan untuk menerima cinta mereka yang selama ini aku menutup mata dan telingaku darinya.
aku tak akan melupakanmu. kau juga.. temukanlah kebahagiaanmu di sana.

"taemin..."

saat ia menoleh, sepasang kaki melangkah mendekatinya. taemin bangkit dan memamerkan senyuman termanisnya.

"kau menemukanku, oppa."

jinki tak menjawab perkataan taemin. ia meletakkan sebuket bunga di atas makam. memejamkan matanya sambil berdoa sejenak.

udara d isekitar dingin dan sejuk, mereka enggan beranjak dari tempat sunyi itu. tempat yang tenang sekali, jauh dari keramaian dunia.

menunggu jinki selesai, taemin merasakan udara yang tak bersahabat. ia mengusap lengannya kedinginan. tadi ia terburu-buru waktu ke sini, tak sempat membawa jaket atau syal untuk menutupi lengannya yang terekspos.

selesai berdoa, jinki melepas jas hitamnya lalu disampirkan di bahu taemin. taemin digendong ala seorang putri olehnya. ujung gaun putih taemin menjuntai hingga ke tanah.

"gunakan ponsel di saku jasku untuk menghubungi umma. kita akan sampai di sana lima belas menit lagi." kata jinki yang terdengar dingin, dan melangkah ke luarkompleks pemakaman.

"oppa, kau marah?" taemin memandang jinki, tapi jinki tak mau memandangnya.

"tidak."

"kau marah," kata taemin, ia menunduk menatap gaun putihnya, merasa bersalah. "maaf, oppa. aku tahu aku keterlaluan. aku pantas dihukum."

"aku marah pada diriku sendiri." potong jinki sebelum taemin berbicara lebih banyak lagi.

"aku marah pada diriku yang tak bisa mengerti dirimu, yang tak bisa menjaga dan melindungimu setiap saat. aku takut... karena sikapku itu, kau membenciku da npergi dari sisiku."

"oppa...." mata taemin berkaca-kaca.

"jadi, maafkan aku."

taemin mengeratkan pelukannya pada jinki. ia makin merasa bersalah. jinki sudah sangat baik karena hanya memikirkan taemin daripada dirinya sendiri, tapi ia terus saja menyusahkan jinki.

"oppa..."

"hm?"

cup!

"saranghae."

senyum jinki mengembang.

aku berjanji. tidak akan membiarkan taemin menangis selamanya. aku akan menghapus air mata dan menyembuhkan lukanya. kau bisa mengandalkanku. karena sekarang aku punya keberanian untuk melakukannya.

*END*

***

Akhirnya…cerita ini berakhir jugaa… honornya mana honor?? Wkwkwkw.
Bai-baii…^^

0 komentar:

Posting Komentar

[ Vistory ]

Halaman

Pages

Cari Blog Ini

Jumlah Pengunjung

 

SAN3R Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting