Kamis, 26 Februari 2015

Endless Tears 3 : Dan... Perempuan Itu...

Diposting oleh Viriza Rara di 15.16
Reaksi: 
Genre : misery (?)
Length : chaptered

[part sebelumnya]

"apa kamu menemukan perasaan itu di mataku?" tanya jinki.
hyun joong melihat mata itu; iris matanya, jauh ke dalam bagaimana perasaan sahabatnya itu, dan kesimpulan yang ia dapatkan adalah keraguan—tidak ada cinta di sana.
"taemin-ah, kamu tidak boleh terus seperti ini." kata key sembari mendekati taemin, lalu berlutut di depannya. memegang lembut kedua tangan kurus itu dan menatap dalam ke matanya yang sayu.
"key..." tiba-tiba saja air mata jatuh menuruni pipi taemin. dia tidak tahu mengapa dirinya terus seperti ini. "untuk apa aku terus hidup? kenapa hal ini terjadi?"


——

Endless Tears 3


Aku membenci jinki dengan alasan banyak hal.

Pertama, karena dia adalah orang yang begitu egois, memaksakan kehendaknya pada para anggota klub baseball. mentang-mentang dia seorang ketua. Mentang-mentang dia yang memegang jabatan paling tinggi di antara kami. Aku sangat membenci orang seperti itu, yang semua perkataan dan perintahnya harus dituruti. Bahkan hukuman yang berat-berat pun tidak memandang gender. Pokoknya, semua dia lakukan untuk menunjukkan kekuasaannya deh!

Alasan kedua, karena dia orang yang paling tidak mengerti kebahagiaan juga kesedihan orang lain. Sudah kubilang, kan, kalau dia itu egois. Dan itulah kenyataannya. Saat Minho koma, dia justru melamarku! Oke, aku tahu itu memang tuntutan dari keluarga kami, keluarga Lee. Karena aku dan Jinki adalah saudara jauh, dan keluarga kami terbagi dalam dua kelompok yang berseteru, maka tujuan menyatukan aku dan Jinki adalah: untuk membuat dua kelompok dalam keluarga kami kembali bersatu. Miris. Kenapa harus aku dan dia? Aku sangat membencinya!

Aku percaya bahwa Jinki adalah orang yang menyebabkan Minho jadi seperti ini. dialah orangnya! Yang terlalu egois dan ceroboh hingga kami semua terseret dalam masalah ini! dia yang patut disalahkan, dia yang patut bertanggung jawab!

Maka, aku membencinya, sangat—sangat—dan sangat membencinya.
Tapi semua kebencianku hanya bisa kusimpan dalam hati. Semua ketidakterimaanku hanya kudiamkan di hati, hingga membuatku terluka. dan luka itu menganga telah lama... hampir membusuk.

Aku tak sanggup menolak ketika umma dan appa menerima kehadiran jinki dan keluarganya dalam keluarga kami. Aku diam saja, tak menjawab apa-apa, tapi mereka anggap itu adalah sebuah jawaban kalau aku setuju.

Aku bodoh, karena...


Membiarkan orang lain masuk dengan paksa ke dalam hidupku, mengabaikan keberadaan seseorang yang sebenarnya kucintai.


Aku mencoba untuk menjadi apa pun yang kau butuhkan.
Dan tak akan kubiarkan kau terluka.
Tapi masih kulihat di matamu...
Semua itu masih belum cukup.


"semuanya jadi 5750 won."

jinki mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya, lalu membayarnya pada kasir. setelah itu ia mengambil pesanannya dan berlalu untuk keluar.

"terimakasih, silakan berkunjung kembali.. ^^"

pagi yang tidak terlalu hangat. jinki menyusuri jalanan kota yang tertutupi salju, semua tangannya penuh untuk menjinjing sepaket crepes dan satu bekal makanan. ia sengaja memesan satu paket yang berisi 4 crepes. rasa pisang, mocca, melon dan stroberi. cukup untuknya, taemin, hyun joong dan key. jangan tanya bagian minho dan jonghyun. ia membeli satu jenis makanan itu saja atas saran jonghyun.

bicara tentang taemin, jinki jadi ingat kalau tadi pagi dia bertengkar dengannya. Itu sudah biasa terjadi, sih. Keadaan tidak lebih baik dari taemin yang cuma menjawab sesingkat apa pun pertanyaan jinki. tapi pagi ini justru lebih buruk, karena taemin tak mau menjawab satu pun pertanyaan jinki.

padahal jinki cuma menawarkan untuk mengantar taemin ke toko bunga, sekaligus jinki membeli crepes, karena tujuan akhir mereka sama; rumah sakit. Jinki tidak mau menyerah dan berkeras kepala ingin mengantar taemin. Tapi yang terjadi adalah taemin langsung menutup pintu dengan keras dan pergi begitu saja.

jinki merasa bersalah juga atas sikapnya yang keras kepala, tapi hal itu juga dikarenakan demi keselamatan taemin. Bagaimana pun juga salju di luar sangatlah dingin, sudah terlalu bertumpuk-tumpuk dan tebal. bukankah sudah menjadi hal yang biasa kalau mereka bertunangan maka jinki akan meluangkan waktu untuk bersama? Tapi yang terjadi malah sebaliknya.

Jinki jadi berpikir, bagaimana caranya ia akan menghadapi taemin nanti jika mereka bertemu? Apakah ia harus minta maaf? Apakah ia harus menunjukkan kecemasannya sebagai seorang kekasih? Tapi, bagaimana kalau taemin cuek dan tidak merespon?

Terlalu banyak pertanyaan di benak jinki. ia sampai tidak sadar kalau sudah berjalan sampai di gerbang rumah sakit. Dia datang dari sisi gerbang sebelah utara. Di seberang jalan, taemin sedang berjalan menuju ke sisi gerbang sebelah selatan. Dia berjalan sambil menunduk, kedua tangannya memeluk sebuket bunga.

Jinki segera sadar dari diamnya, langsung ia menghampiri taemin sebelum ia melewati pintu gerbang.

“taemin-ah!” sapanya dengan sumringah. “benar, kan, apa kataku, seharusnya kamu tidak menolak tawaranku. Lihat sepatumu. Pasti sulit berjalan jauh di tengah salju seperti ini.” jinki mendekap kedua pipi taemin dengan tangannya yang penuh.

“dingin sekali...” gumam jinki, ia terlihat cemas—tapi senyum masih menghiasi wajahnya. “aku bawa bekal titipan bibi Lee. Dia berpesan untuk dimakan selagi hangat. Ayo... kita makan sama-sama. ^^”

Tak ada jawaban dari taemin. Hanya tatapan kesal bercampur marah yang ia layangkan pada jinki. lama-lama jinki jadi canggung juga.

“taemin-ah... kalau kamu masih marah karena kejadian tadi pagi... aku minta maaf.”

“....” taemin diam.

“baiklah, aku mengerti. Aku nggak akan memaksamu lagi.. yah... kamu boleh melakukan sesukamu sajalah...” kata jinki akhirnya, mengalah.

Taemin berdesis pelan. “sebaiknya kamu menjaga ucapanmu itu.” lalu ia berlalu meninggalkan jinki dengan langkah tergesa.

Jinki tetap diam pada tempatnya, kali ini ia tak berniat untuk mengejar taemin. Tak mengerti lagi apa yang harus ia lakukan. Nampaknya perkataan taemin tadi begitu mengena baginya.

Kali ini aku percaya bahwa aku benar-benar bisa berubah.
Kuberikan semuanya padamu.
Kali ini kau benar-benar memiliki segalanya,
Tapi, kupikir aku salah.


“....Sang matahari tetap bersikeras untuk menerangi bumi tanpa henti, sebab manusia dan makhluk hidup di dalamnya membutuhkan dia, katanya. karena iba pada matahari yang kelelahan harus menerangi bumi siang dan malam, para bintang-bintang pun berdiskusi untuk membantu sang matahari. Akhirnya diputuskan untuk meminta bantuan pada sebuah planet bernama bulan. Sang bulan menyanggupinya untuk membantu peran matahari di malam hari, namun karena bulan tak bisa memancarkan cahaya, ia hanya bisa memantulkan cahaya matahari saja. semua setuju, dan pada akhirnya tugas matahari tidak lagi menerangi setiap waktu... sang bulan dan matahari menjadi sahabat baik, dan alam semakin menjadi seimbang...”

Semua bertepuk tangan riuh mengakhiri dongeng key yang bertajuk ‘matahari dan bulan’. Key tersenyum sambil membungkukkan badannya. Lalu membawa semua boneka-bonekanya turun dari panggung. Tidak lupa ia bagikan boneka-boneka itu pada anak kecil yang menjadi penonton. Mereka tampak senang mendapat boneka itu.

Bersamaan dengan itu hyun joong muncul dari sisi panggung menuju ke tengah, tak lupa ia membawa gitarnya. setelah mengambil posisi yang nyaman untuk menyanyi, ia mulai memainkan gitarnya.

Walau kau tenggelam dalam masa lalu yang tak memuaskan,
Dan hari ini tidak berjalan seperti yang kau impikan, yeah
Bintang-bintang yang bersinar sebelum fajar itu
Apakah mereka benar-benar hilang? Atau kembali lagi besok...?

Dari sudut mata hyun joong, ia melihat key yang kini sudah berada di barisan penonton paling belakang. Ia tak mencari key, tapi ekor matanya langsung saja tertuju padanya. Key melambaikan kedua tangannya membentuk silang, wajahnya terlihat khawatir. Hyun joong tahu ia harus segera menyelesaikan lagunya walau belum waktunya berakhir.

...kita tak pernah tahu tentang hari esok,

Ini adalah kalimat bahagia.
ia menghentikan permainan gitarnya. banyak pasang mata yang menatap heran ke arahnya. Tapi ia berusaha untuk tidak peduli. Key sudah beranjak pergi dari tempatnya.

Hyun joong membalikkan gitarnya untuk ia gendong di punggungnya. “nan jeongmal mianhae...” ucapnya penuh sesal. “penampilan kami hari ini cukup sampai di sini... kami lanjut lain waktu. Terimakasih untuk semuanya yang hadir di sini. terimakasih, kalianlah yang membangkitkan semangatku hingga saat ini... sekali lagi, terimakasih...” hyun joong membungkuk, lalu berjalan pelan meninggalkan panggung. Tepuk tangan riuh menyambut setiap langkahnya. Ia tersenyum.

Dalam hatinya ia cemas, semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi.


Sudah lima belas menit berlalu semenjak taemin dan jinki memasuki ruangan itu. tidak ada yang berubah. Taemin masih saja berkutat dengan bolpoin dan kertasnya, berniat untuk membuat surat bangaunya lagi. jinki bersandar pada jendela, memakan bekal khusus buatan bibi Lee, sendiri. Ia tak mau memaksa taemin dahulu untuk memakan. Suasana hati taemin sedang tidak baik.

Tapi jinki berpikir, crepes yang ia beli bisa saja meleleh jika tidak segera dimakan. Jadi, ia harus bagaimana? Memakannya sendiri, lagi? aniyo... dia tidak mau itu.

“taemin...” jinki menghela napas, berharap semoga taemin tidak akan marah kali ini, “aku beli crepes untuk kita berempat. Kamu, aku, hyun joong dan key. Tadi aku melewati toko itu saat pulang dari rumah bibi lee. Dan aku teringat perkataan jonghyun kalau kamu suka—”

“...aja...”

Jinki berhenti bercerita. Ia mendengar secuil kalimat yang taemin lontarkan barusan. “apa? Aku tidak dengar...”

“kamu sengaja...” ulang taemin geram.

“maksudmu?”

“kamu sengaja, hah?!” taemin marah. Ia semparkan semua kertas dan bolpoin yang ia pegang ke arah jinki. lalu matanya yang besar itu menatap jinki dengan kebencian yang menjadi-jadi. “kamu sengaja membelinya... supaya aku teringat kenangan bersama minho, dan kamu tertawa di balik itu semua! Kamu sengaja agar aku menangis lagi, kan?! Bedebah! Katakan saja apa maumu, hah?!!”

Apa yang bisa kukatakan?
Inilah aku dan aku melukaimu.

Jinki hanya diam menatap taemin. Dia tidak mengerti kenapa taemin bisa berpikir seperti itu. bukan, bukan seperti itu keinginannya membelikan taemin crepes. Taemin hanya salah mengerti. Tapi... jinki terlalu sakit, karena selalu mendapat perlakuan taemin yang berbanding terbalik dengan harapannya.

Karena itu, seharusnya dari awal... ia tak pernah berharap. Tapi apa mau dikata, semuanya sudah terjadi. Kertas telah menjadi abu. Nasi telah menjadi bubur. Tak ada yang bisa kembali seperti semula. Apakah ia telah terlambat?

Apa yang bisa kulakukan?
Tak peduli seberapa besar perasaanku,
Aku selalu berakhir melukaimu.

“kenapa kamu berpikir seperti itu?” tanya jinki lirih. Ia berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya di mata taemin. Tapi... tak ada. Mata itu terlalu penuh luka. Tak ada lagi kenyataan yang terlihat.

Taemin mendengus, ia mengambil kotak crepes yang jinki beli, lalu merobeknya dengan paksa. Menyambar semua isinya dan melemparnya ke lantai dengan seluruh emosinya.

“...hentikan semua kemunafikanmu itu. aku benci kalau kamu terus seperti itu.” katanya singkat, dingin dan jelas. Begitu jelas, tetapi jinki tidak mengerti apa maksudnya. Setelahnya, taemin berbalik dan melihat minho yang terbaring—untuk kesekian kalinya. Perlahan, dalam keheningan ruangan itu... air mata taemin jatuh.

Pintu ruangan terbuka. Key masuk dengan wajah khawatirnya. Melihat suasana yang begitu tidak mengenakkan—ditambah crepes, kertas-kertas dan bolpoin yang berserakan di lantai, ia mengerti apa yang baru saja terjadi. Tak sengaja tadi ia mendengar suara keras yang berasal dari ruangan itu. suara taemin.

Key tidak tahu harus berkata apa dan apa yang harus ia lakukan, sampai akhirnya hyun joong datang. Hyun joong yang masih terlihat berkepala dingin berkata, “taemin, segera basuh mukamu. Key, temani dia.”

Key mengangguk, tapi taemin menggeleng. Ia berjalan gontai melewati hyun joong dan key keluar ruangan.taemin menolak untuk key temani. Selepas ia pergi, hyun joong menatap jinki prihatin. “sampai kapan kamu akan terus tak bisa mengendalikan dirimu seperti ini?”

Key berinisiatif untuk membersihkan lantai. Ia mulai dengan memungut kertas-kertas dan bolpoin, lalu membuang crepes ke tempat sampah. Hyun joong mengambil alat pel dan mengepel lantai yang bernoda.

“dia bilang aku munafik, joong...” jinki akhirnya bersuara. Berat dan terdengar sedih. Lebih parah dari hari-hari sebelumnya. “dia membenciku. Aku tak mengerti, apa yang salah dariku?”

Hyun joong mengerti, bahwa hari-hari jinki selalu seperti ini dan tak berubah. Jadi dia hanya bisu menanggapi kalimat jinki. ketika lantai yang di bersihkannya sudah terlihat tak bernoda lagi, ia pergi ke toilet.

Jinki terdiam membisu, tapi pikirannya penuh. Oleh taemin, oleh bayang-bayang masa lalunya, oleh minho.... kepalanya terasa berat. Kenapa bebannya begitu banyak? Ia hampir tidak kuat lagi. kenapa ia begitu lemah? Seorang cowok seharusnya tak se-melankolis ini bukan?

Tuan, jika bisa, jinki ingin bertukar tempat saja dengan hyun joong. hyun joong yang begitu bebas, tak peduli dan tidak dipedulikan orangtuanya, hyun joong yang bisa mengekspresikan dirinya dengan bebas... jinki begitu iri. Sangat berbeda dengan dirinya yang selalu berada di bawah kendali orang tua, yang menuruti semua perintahnya. Jika harus ‘begini’, ia melakukannya. Jika harus ‘begitu’, dia tidak membantah. Apakah ia seperti robot?

Jinki tertawa, menertawakan dirinya sendiri. Benar, ia seperti robot. Tak pernah membantah program yang diberikan Tuannya. Tak pernah mengeluh atas pekerjaannya. Tapi... bukankah lama-lama baterai robot bisa habis juga? Itu artinya, jika ia terus menerus menurut tanpa membantah, suatu saat tenaganya akan habis. Entah sebatas sakit saja, atau bahkan sekarat. Dan saat itu, akankah ada orang yang menolongnya?

Aku berusaha keras untuk menjadi sepertinya.
Yang selalu kau inginkan dalam hidupmu.
Tapi masih saja aku memberimu kesengsaraan.
Apa yang bisa kulakukan?

Jinki bergerak menuju minho yang terbaring. Yang terpejam dengan damai tanpa terbangun oleh kegaduhan yang sempat ia buat.

“minho... apa yang harus kulakukan? Di mana letak kesalahanku? Apa aku bisa memperbaiki semuanya?”

Kali ini aku percaya padamu, padaku.

Tentu saja ia bodoh karena bertanya pada orang yang tak bisa menjawab. Ternyata benar, ia memang munafik.

Ketika aku memberikan semuanya,
Aku tak bisa melihat semuanya dengan jelas,
Tapi kau selalu mengatakannya padaku,

“baginya, kenapa kamu selalu menjadi alasan di balik semua ini?” lagi-lagi jinki bertanya.

“....” tentu saja minho tidak menjawab. Setidaknya begitu yang mereka ketahui. Jinki menghela napas. Baru beberapa detik, belum sempat ia menenangkan pikirannya yang kacau, key mengagetkannya.

PLAKK!!

Key menampar jinki.
“mianhae oppa, kalau aku tidak sopan. Tapi kurasa oppa sudah kelewat batas..” kata key pelan, takut mengganggu minho dan pasien lainnya. “kemana lee jinki yang berani dan kuat? Berhentilah jadi cengeng! Meski masalah yang oppa hadapi begitu berat, bukankah aku dan hyun joong ada di sisimu? Ayo kita lewati ini bersama-sama... jangan jadi rapuh sendirian, oppa... aku yakin jiwa lee jinki yang dulu, masih ada....” dan key menunjuk dada jinki. “... di sini.”

Beberapa detik berlalu. Saat itu, jinki tidak tahu apa yang dilakukannya hingga ia memeluk key. Key tidak menolaknya. Ia mengelus punggung jinki pelan... menyalurkan kekuatan padanya.

“kita di sini bersama-sama, oppa... jangan lupakan itu.” kata key sambil tersenyum.

Baru saja jinki menyadari apa yang dia lakukan dari kalimat key barusan. Ia jadi kikuk. Namun belum sempat melepas pelukannya, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Hyun joong yang hendak masuk jadi terhenti langkahnya. Ia terpaku melihat apa yang terjadi. Raut wajahnya berubah seketika.

Jinki dan key segera melepaskan pelukan mereka dengan gugup.

“hyun joong-ah...”

“oppa...”

“—ini buruk.” Potong hyun joong cepat, sebelum jinki dan key sempat menjelaskan apa yang terjadi. “..mendadak diberitakan kalau badai salju akan mengarah pada seoul, dan aku melihat taemin pergi keluar tepat setelah kalian bertengkar tadi.”

Jinki langsung cemas mendengarnya. Pikirannya mulai melantur kemana-mana. begitu pula dengan key.

“lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya key.

“kita akan mencarinya.” Jawab jinki mantap.

——

[Extra]
Suasana yang sepi di kamar itu. hanya terdengar bunyi tetesan air di selang infus serta detak jarum jam di dinding. Di luar sana salju turun semakin deras seolah hendak menyambut natal. Sore yang biasanya terang jadi semakin suram.

Angin berhembus kecil menerbangkan selembar kertas yang tertumpuk di meja. Kertas itu terbang menari-nari di angin hingga jatuh tepat di atas dada seorang pasien yang terbaring sakit. Di lembaran itu tertulis;

Aku mengharap keajaiban di malam natal ini. kumohon... cepatlah kau bangun dari tidurmu.

Endless tears 3—end.

0 komentar:

Posting Komentar

[ Vistory ]

Halaman

Pages

Cari Blog Ini

Jumlah Pengunjung

 

SAN3R Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting