Rabu, 09 Januari 2013

Justice

Diposting oleh Viriza Rara di 10.46
Reaksi: 

Seperti obat yang rasanya pahit, kita tidak harus memuntahkannya.
Seperti kenyataan yang dirasa menyakitkan, bukan berarti kita harus lari darinya.

Karena di balik yang menyakitkan itu ada makna tersendiri. Dan kita tidak akan bisa menduga seperti apa maknanya. Makna yang diberikan-Nya adalah maksud untuk kita bisa menjadi lebih baik dengan memahami keadilan.

Hidup itu penuh dengan misteri yang tidak bisa diterima oleh akal manusia. Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya hanya bisa pasrah jika IA telah menghendaki sesuatu agar terjadi. Begitu pula jika kita harus menerima kenyataan yang pahit. Takdir yang kejam. Atau hidup yang tidak adil.

Mungkin kita akan berpikir seperti itu—takdir yang kejam atau hidup yang tidak adil pada diri kita... jika semuanya terasa berat, tapi nyatanya tidak. Kurasa itu adalah hukum karma atau yang biasa disebut dengan keadilan.
Coba dipikirkan, buah itu pasti ada karena pohon tumbuh. Pohon yang kokoh atau pun kecil sekali pun pasti memiliki akar. Maka kita harus memikirkan dahulu akar dari hasil (buah) yang kita peroleh.

Hukum keadilan alam yang tak bisa kita rubah, penjelasannya seperti ini:

Ada yang berpendapat Semua dalam hidup itu hanya memiliki dua sifat. Memberi dan menerima. Ini adalah semacam kelanjutan dari rumus itu. Jika kita memberi sesuatu pada orang, maka orang itu akan bersimpati pada kita. Suatu saat jika kita membutuhkannya, kemungkinan ia akan melakukan dua hal; menolong kita atau mengacuhkan kita. Itu adil. Sebab kemungkinan ia menolong kita adalah karena ia menerima dengan baik maksud kita dahulu memberinya. Untuk kemungkinan kedua, ia mengacuhkan atau pun tidak mau membantu kita adalah karena ia tidak menerima dengan baik maksud kita dahulu untuk memberi padanya. Jangan salahkan dia, karena semua itu ada alasannya, jadi pasti ada sebabnya pula ia tak menerima dengan baik maksud kita.

Mungkin hukum keadilan itu bermaksud untuk memberi pelajaran bagi kita, agar kita menjadi kuat. Agar kita bisa lebih tegar dalam menghadapi hidup. Atau agar kita bisa introspeksi diri. Adil, bukan? Dengan hadirnya masalah itu, kita bisa menjadi lebih baik. Maka dari itu, mulailah untuk menganggap segalanya dari perspektif yang berbeda. Masalah jangan dianggap beban, karena Tuhan selalu memiliki alasan yang baik. Percaya pada-Nya. Berlapang dada dan kembali untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya. Insya Allah, ada jalan... ^^


Aku bisa berbicara seperti ini, bukan karena aku sok tahu. Tentu saja ada prosesnya. Prosesnya adalah pengalaman pribadi, yang bisa lebih dikategorikan pada diary jika dituliskan. Hehehe...

Sekadar share pengalaman deh, juga, aku ingin jika suatu saat diriku membaca tulisan ini, aku ingin diriku mengingat rasa itu... jadilah lebih baik, janji?


Saat itu, sore yang dingin. Hujan turun dengan derasnya. Aku tahu, langit bersedih. Ia menjadi gelap dan meringkuk di sudut sore.

Aku berdiri di samping hujan. Masih berteduh di bawah atap yang menaungi rumahku.

Dengan terkenangnya masa lampau dalam memori otakku, aku ikut bersedih. Aku rindu pada perasaan lama yang telah terkubur dalam hati. Dan rasa itu bisa kucecap bila hujan ada. Dengan harumnya, suaranya, juga setiap butiran rintiknya yang semakin membawaku terhanyut.

Aku menangis. Tanpa sadar. Karena aku menyadari mataku memanas dan tiba-tiba saja butiran air mata itu sudah mengalir di pipi.

Aku memejamkan mata. Menarik nafas yang terasa begitu berat melewati rongga dadaku. Menenangkan diri agar tidak terus menangis. Karena aku tidak suka menangis. Menjadi cengeng itu bukan keinginanku. Karena aku harus tegar. Harus menjadi seseorang yang kuat.

Tapi saat aku membuka mata lagi, air mata itu semakin deras mengalir. Aku tidak bisa menahannya. Harumnya hujan yang ku hirup membuatku semakin sesak.

Aku rindu semua di masa dulu...

Rumah, sekolah, teman, cinta, ayah, keceriaan yang hilang, hati yang masih utuh, dan dirimu.
Tangis dan kesedihanku menguap pada tiap tetes hujan yang menghujam. Tapi setelahnya tidak segera habis, karena timbul sedih yang baru hingga menjadi bertumpuk-tumpuk. Aku berusaha tersenyum. 
Meski menangis, aku harus tetap bisa tersenyum... karena senyum adalah lambang ketegaranku. Memang bodoh sekali kalau aku menghias kesedihan di mata sedangkan bibirku tersenyum. Tak apa, biarlah aku terlihat seperti orang bodoh. Aku tak peduli, karena aku akan tetap tersenyum meski rasanya sakit sekali pun.

Mengapa hidupku itu tak adil? Dahulu, saat masih kanak-kanak, aku bisa dengan polosnya tertawa dan tersenyum bahagia tanpa memikirkan permasalahan yang ada dalam keluarga. Aku bisa dengan bersemangatnya bermain dan berlari sekencang-kencangnya tanpa takut akan apa pun. Tapi sangat berbeda dengan sekarang. Sekarang aku lebih sering depresi. Bersedih dan menangis. Hidup ini tak adil. Kenapa harus aku yang merasakan seperti ini? Kenapa harus aku yang menangis, sedangkan mereka bisa tersenyum bahagia di sana?

Saat ini aku berbeda. Masa kecilku sudah tak berbekas lagi. Semuanya lenyap semenjak ayah pergi. Ayah, aku merindukanmu... sedang apa kau di sana? Apa kau baik-baik saja? Apa kau bisa tersenyum di sana? Baguslah. Kau tidak perlu melihatku menangis seperti ini, ayah. Bagiku cukup hanya dengan kau bisa tersenyum meski kita jauh. Karena kata ibu, kau pergi dengan senyuman, bukan? Maka teruslah tersenyum, ayah.

Ayah, ku harap kau tidak tahu aku di sini menjumpai banyak kesulitan. Aku tidak mau kau bersedih. Biarkan aku menangis sendiri, meski terkadang aku merasa butuh sandaran bahu seseorang agar aku bisa menangis sepuasnya. Agar aku tidak merasa sendiri saat menangis. Karena menangis dalam kesendirian itu sepi dan menyiksa.

Ah, benarkan? Aku merindukan masa laluku. Air mataku ini saksinya. Aku rindu bahagia yang dulu kurasa. Aku benci dengan sedih dan bertumpuk-tumpuk masalah yang kini kuhadapi. Hidup tidak adil padaku! Takdir ini begitu kejam!

Ah, tapi... apa gunanya pula aku menangis dan memaki takdir juga hidup? Toh dengan memaki dan semakin dalam menangis tak akan merubah segalanya. Hanya aku yang membuang waktuku sia-sia tanpa mendapatkan hasil yang berarti. Aku harus berhenti. Aku harus mau intospeksi. Pasti semua ada alasannya, bukan? Pasti di balik semua masalah itu adalah alasan yang baik, kan? Ya, pasti seperti itu...

Aku tengadah pada langit. Mencari-cari sesuatu di sana, di balik awan-awan gelap yang menjatuhkan air mata. Sesuatu tak jelas yang di sebut keadilan. Mungkinkah keadilan itu ada? Mungkinkah keadilan itu berjalan semestinya? Tapi kalau ia ada, kenapa aku merasa hidup ini begitu tak adil? Apakah keadilan itu masih tersembunyi?

Aku merentangkan tanganku, membiarkan hujan menyentuhku dengan hujamannya yang lembut. Ku balikkan telapak tanganku. Menikmati rasa yang kudapat ketika tetes hujan terjatuh, lalu menabrak kulitku dan terpecah. Seolah-olah ia melebur di angin membawa harapanku bersamanya.

Lalu aku mulai memikirkan. Bagaimana aku bisa seperti ini? Pastilah ada alasannya.

Satu detik aku memejamkan mataku rapat-rapat, mengingat-ngingat penyebab yang mungkin berhubungan dengan masalahku. Satu detik kemudian aku masih mencari. Dan beberapa detik kemudian aku kaget. Membuka mataku, dan menyadari sesuatu.

Ternyata akulah penyebabnya secara tidak langsung. Memang kecil yang ku perbuat, dan tak seorang pun tahu kecuali diriku sendiri. Aku telah menyakiti orang lain. Tanpa sadar aku langsung menyakitinya begitu pertama kali bertemu dan melihatnya. Aku tidak sengaja. Aku tidak ingin untuk berpikir seperti itu. Tapi itu refleks. Dan mungkin karena sudah menjdi kebiasaanku. Nah, itu dia! Pasti kebiasaanku itu buruk karena bisa menyakiti orang. Jadi, aku harus mulai berubah!

Aku kembali menatap langit. Kali ini air mataku mengalir bahagia. Seulas senyum mengukir di bibirku. Aku berterima kasih pada hujan juga langit yang dengan setia membirkanku menangis tanpa protes. Tanpa berkomentar apa pun atas masalahku dan kesedihanku. Mereka adalah teman bisuku yang mau mengertiku.

Sekarang aku mengerti, bahwa apa yang kita lempar pasti akan memantul kembali. Ya, kurasa, keadilan itu selalu ada bersama kita, tapi mungkin kita tidak menyadarinya...

#End of Diary gaje

Ahahaha. Cerita yang sederhana dan gak ada klimaksnya memang. Tapi aku senang menulisnya. Entah kenapa kata-katanya aku tak kesulitan untuk menemukannya dalam benakku. Padahal biasanya aku sulit bercerita atau membuat fiksi. Sabodo ah, sabodo. U.ua



Seperti daun yang jika gugur dari pohonnya ia tak pernah menyalahkan angin,
Maka kita pun jangan menyalahkan takdir jika hidup kita sulit.

Hukum keadilan terkadang memang menyakitkan. Tapi kita tidak bisa menyalahkannya. Tahukah kamu, orang yang menyakiti lebih menderita dibandingkan dengan orang yang disakitinya? Ini adalah sebagian dari hukum keadilan. Maka kita hanya perlu memaafkan dan introspeksi diri jika tersakiti. Dengan begitu kita bisa memetik hikmahnya dan tidak akan membuat pintu rezeki kita tertutup karena kita yang berlapang dada.

Mungkin jika ada masalah untuk berlapang dadanya, kita bisa lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Sekali lagi kukatakan, yakinlah pada-Nya, bertawakallah pada-Nya. Semua pasti ada jalan. Jangan sedih atau terpuruk berlarut-larut, karena itu justru akan menutup pikiran kita dan tingkat kesulitan untuk menyelesaikan masalahnya akan meningkat.

Semuanya akan menjadi ringan jika kita ikhlas, dan menyadari bahwa hidup bukan untuk mengejar harta. Hidup seharusnya kita gunakan untuk mencari bekal amal sebanyak-banyaknya, untuk kehidupan kita selanjutnya kelak. Kita senantiasa harus mengingat-Nya, takut pada-Nya, pasrah pada-Nya, dan ikhlas... ^^

0 komentar:

Posting Komentar

[ Vistory ]

Halaman

Pages

Cari Blog Ini

Jumlah Pengunjung

 

SAN3R Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting